Skip to main content

Posts

Showing posts with the label cerbung

Mencari Damai bagian 15

—-                 Seminggu setelah perjalanan. Pagi itu kami sampai di stasiun Bandung, aku berpisah dengan Nindya. Tidak ada ucapan selamat tinggal. Tidak ada lambaian tangan atau senyum Nindya, dia hanya bilang tentang janur kuning. Di gerbang stasiun itu, aku melihat Dani menghampiri Nindya. Nindya membuka carriernya kemudian memeluk Dani.                 Kali ini aku benar-benar sadar. Lengan Nindya hanya akan memeluk Dani. Nyamannya Nindya hanya ketika bersama Dani. Saat itu aku memakai kembali kaca mata hitamku. Berjalan keluar stasiun Bandung tanpa melirik Nindya.                 “Aku seneng banget.” Kata Nindya, berbisik di telinga Dani. “Seru! Aku mau kesana lagi.” Suara Nindya terdengar ringan dan renyah. Seolah lupa kami saling berteri...

Mencari Damai bagian 14

—-                 Di depan aula kampus, pertama kalinya aku bertemu dengan Nindya. Nindya menggunakan sebuah topi pelaut berwarna ungu yang terbuat dari karton. Dia sedang dihukum untuk lari mengelilingi aula. Aku memperhatikan Nindya tak berkedip. Nindya menatapku sebentar, melempar senyum tipis tapi terus berlari.                 Waktu itu aku sedang berdiri dengan teman baruku bernama Irwan. Irwan segera berlari mengejar Nindya. Nindya berhenti berlari saat Irwan memanggilnya. Irwan tanpa ragu meminta nomor handphone Nindya. Irwan menunjuk sebentar padaku. Nindya sekali lagi melemparkan senyum manisnya padaku.                 Irwan kembali padaku sambil tersenyum lebar. Irwan mendapatkan nomor handphone Nindya hanya dengan mengatasnamakan aku y...

Mencari Damai bagian 13

—-                 Aku sampai di Kalimati. Nindya tertidur di dalam tenda, berselimutkan sleeping bag. Bibirnya tidak biru. Tapi masih pucat. Aku duduk di sampingnya. Perlahan menyentuh keningnya yang dingin. Nindya terbangun.                 “Rian, kamu enggak apa-apa, Rian?” Tanya Nindya padaku. Tangan Nindya keluar dari sleeping bag dan meremas tanganku yang beku, tapi tidak sebeku hatiku.                 “Dingin.” Jawabku.                 “Sini, pake sleeping bag aku.” Nindya membuka sleeping bagnya. Dia duduk. Menyelimutkan sleeping bag hangat bekas tubuhnya. Kemudian Nindya sambil menggosok punggungku dengan telapak tangannya. “Mata kamu penuh debu. Dibersiin dulu.” A...

Mencari Damai bagian 12

—-                 “Rian, kalo di puncak Mahameru itu ada gas beracun. Yang aku tau, katanya jangan duduk, tetep berdiri. Soalnya katanya juga, gas beracun itu Cuma setinggi pinggang.”                 “Baca dari mana, Nind?” Tanyaku sambil masih mencontek tugas ekonomi makro milik Nindya di perpustakaan.                 “Dari blog orang.”                 “Orang mana?”                 “Lupa lagi, keburu di-close sih.”                 “Lain kali, coba kamu tanya dulu. Dia tau itu dari mana?”       ...

Mencari Damai bagian 11

—-                 “Rian! Rian tungguin kita. RIAAANNN!” Citra berteriak ke arah Rian. Rian berada beberapa puluh meter di depan Citra. Tidak menggubris sedikit pun meski pun Citra sudah berteriak sekuat tenaga. Kabut menerpa Citra, Aura dan Siska. Aura bergidik, menahan dingin dan ketakutan. Dia belum pernah ada di gunung setinggi itu sebelumnya. Terbersit di kepala Aura, rasa takut akan kematian.                 Siska berteriak ke bawah, memanggil-manggil Nindya dan Rena. Matanya sudah basah oleh air mata. Siska dan Aura sama-sama bingung ketika Rian dan Citra bertengkar. Mereka satu frekuensi dalam berpikir, teringat pada film Descendent . Mereka bertengkar kemudian mati satu persatu.                 Kali ini, mereka tidak perlu bingung, kematia...

Mencari Damai bagian 10

—-                 Setelah beberapa ratus meter berjalan dan tinggal beberapa puluh meter ke puncak, aku melihat ke belakang. Kosong. Tidak ada Citra, Aura atau Siska di belakangku. “CITRA! SISKA! AURA!” Aku meneriaki nama mereka tapi tidak ada jawaban. Kabut memutus pandanganku ke bawah. Satu-satunya jalan yang kulihat adalah ke puncak. Aku berjalan mencoba menggapai puncak. Di sana aku sendirian. Tidak ada siapa pun.                 Aku mengerti bahwa itu adalah puncak tertinggi di pulau Jawa, tapi mengapa begitu sepi? Aku berharap di sini ada pendaki lain. Tapi hanya aku. Aku tercekat. Aku tidak tahu harus kemana. Aku mengeluarkan kamera digital dan mulai mengambil semua gambar situasi di sekelilingku. Semuanya kabut. Tiba-tiba aku teringat pada Mbah Maridjan. Jangan-jangan ini wedhus gembel ?     ...

Mencari Damai bagian 9

—-                 Tengah malam, kami menyiapkan semua perlengkapan dan menutup tenda yang semakin kencang diterpa angin. Aku menggunakan baju berlapis, mengikat leherku lebih rapat dengan syalku. Angin menjadi musuh terbesar di Kalimati. Tubuhku menggigil dahsyat.                 “Jangan diem. Kita harus bergerak biar nggak dingin.” Kata Nindya. Bibirnya membiru saat kusenter dengan headlamp-ku. Nindya memimpin doa lagi. Kemudian langkah kami dimulai. Puncak Mahameru terlihat sangat dekat dari Kalimati. Tapi pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan kemarin dan kemarinnya lagi adalah, Ranu Kumbolo tidak dekat. Puncak pun tidak dekat dari Jambangan. Dan sekarang, puncak pun tidak dekat meski pun sudah sampai di Kalimati.                 Kami ...

Mencari Damai bagian 8

—-                 Jambangan, adalah nama tempat kami bertemu dengan puncak Mahameru untuk pertama kalinya. Aku dan Citra gencatan senjata. Selama Citra tidak membahas masalah barusan, aku pun diam saja. Berpura-pura kami adalah kelompok yang harmonis di mata Nindya.                 Perjalanan dilanjutkan. Puncak sudah terasa semakin dekat. Kami berjalan bersemangat. Melewati pasir di Jambangan, kemudian melewati akar-akar, semak kemudian sampai di tempat bernama Kalimati. Nindya tetap berjalan lebih dulu. Dia yang lebih dulu sampai di posko Kalimati, melewati padang rumput yang bertanahkan pasir vulkanik panas. Pipiku terasa panas.                 Di sana kami duduk beristirahat. Angin di Kalimati lebih kencang dari angin di Ranu Kumbolo. Tempat...

Mencari Damai bagian 7

—-                 Seseorang duduk memperhatikan sesuatu. Mataku yang masih ingin menutup kupaksakan untuk terbuka. Nindya duduk, menatapku sambil tersenyum. Aku terkejut, segera kurapikan wajahku dengan menyapu wajahku dengan syal yang melingkar di leherku.                 “Ini waktu yang tepat, Rian.” Kata Nindya. DEG. Jantungku hendak berhenti. Aku bangkit, duduk menghadap Nindya. Cahaya kuning muncul menyinari wajah Nindya dengan lembut. Nindya masih menatapku. Matanya sekarang menghadap ke sumber cahaya kuning itu. “Selamat pagi, Ranu Kumbolo.”                 Kemudian keajaiban itu muncul. Cahaya kuning yang lembut itu kemudian menyinari mata Nindya yang berwarna kecokelatan. Aku selalu suka matanya yang berwarna cokelat itu. Senyumnya merek...

Mencari Damai bagian 6

—-                 “Nggak usah pake anjir kayaknya bagus deh, Rian.” Protes Siska. Ya, ada Siska, Citra, Rena, Aura, Nindya dan aku. Enam orang yang berusaha mencapai puncak itu.                 “Puncaknya dimana Nind?” Tanyaku.                 “Dimana yah? Aku juga nggak tau. Aku baru pertama kesini, inget kan?” Jawab Nindya sambil celingukan mencari puncak Mahameru. Nindya kemudian dipanggil oleh supir jeep itu. Nindya mengeluarkan uang kemudian supir itu menjabat tangan Nindya dan supir itu pergi. “Kita registrasi dulu yah. Sebentar.”                 Hanya lima menit Nindya berbicara dengan petugas di Ranu Pane itu, kemudian petugas itu menunjuk sebuah jalan aspal menuju ...

Mencari Damai bagian 5

—-                            Ini entah dimana, aku hanya tahu barusan kami baru saja melewati sebuah air terjun dengan nama Coban Pelangi. Jalanan lengang. Matahari semakin lama semakin meredup. Perjalanan ini persis seperti Frodo yang berusaha ke Mordor.                 Aku menikmati dua hal dari perjalanan naik jeep ini. Pertama, aku menikmati udara sejuk, warna-warna hijau dan kuning dari pepohonan, awan yang tebal berarak tak beraturan di langit. Dan, coba tebak. Ya, Nindya. Nindya menikmati lehernya yang diterpa angin kencang. Tangannya di sana, bersentuhan dengan tanganku yang sudah sedingin es. Aku bisa merasakan bahwa itu adalah tangannya karena aku melirik sedikit. Aku ingin sekali bisa menggenggam tangan Nindya lagi. Aku memakai kacamata hitamku. Aku sekarang me...

Mencari Damai bagian 4

——                 “Malang, stasiun baru! Malang stasiun baru! Malang!” Suara salah seorang petugas kereta menggelegar di telinga kami. Seolah pria itu tahu aku harus berhenti di stasiun ini. Mata kiriku menangkap wajah Nindya yang tertidur sedikit buram. Aku menempelkan mataku di kaca kereta ini untuk tidur. Saking lelahnya, aku tidak merasa terganggu. Kereta sedang berhenti.                 “Nind. Nind.” Kataku. Mengguncang tangan Nindya. Nindya masih menutup matanya. Mulutnya sedikit terbuka dan giginya nongol malu-malu dari celah bibirnya. Darahku berdesir. Menatap Nindya seperti ini, ah, selalu manis. “Nindya…” Aku sekarang memberanikan diri menggenggam tangan Nindya sambil mengusap punggung tangannya dengan ibu jariku. Rena terbangun.              ...