Mencari Damai bagian 9

—-
                Tengah malam, kami menyiapkan semua perlengkapan dan menutup tenda yang semakin kencang diterpa angin. Aku menggunakan baju berlapis, mengikat leherku lebih rapat dengan syalku. Angin menjadi musuh terbesar di Kalimati. Tubuhku menggigil dahsyat.
                “Jangan diem. Kita harus bergerak biar nggak dingin.” Kata Nindya. Bibirnya membiru saat kusenter dengan headlamp-ku. Nindya memimpin doa lagi. Kemudian langkah kami dimulai. Puncak Mahameru terlihat sangat dekat dari Kalimati. Tapi pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan kemarin dan kemarinnya lagi adalah, Ranu Kumbolo tidak dekat. Puncak pun tidak dekat dari Jambangan. Dan sekarang, puncak pun tidak dekat meski pun sudah sampai di Kalimati.
                Kami melewati hutan pinus. Mudah mengenali pinus karena bentuk daunnya yang berbeda dari pohon kebanyakan. Daun pinus kering berserakan sepanjang jalan menuju puncak. Di depanku, beberapa kali para gadis terjatuh atau melorot lagi setelah mencoba meniti tanjakan berpasir. Nindya terlihat tangguh di posisi paling depan.
                Dari bawah aku bisa melihat headlamp-nya tidak hanya menyinari jalan yang ditempuhnya, tapi juga sekitar. Membaca jejak. Ada sebuah pita berwarna merah yang sengaja diikatkan ke ranting-ranting kering untuk memberi petunjuk arah yang benar.
                “Sehat semua?” Tanya Nindya. Suaranya tertahan karena dia menutup hidung dan mulutnya dengan syal. Dia kembali menghitung meski pun kali ini aku tidak melihat gerak bibirnya merapalkan angka satu hingga enam. Dia menatapku. Aku tahu dia pasti tersenyum.
                “Gimana di atas sana, sehat?”
                “Dingin! Cetar membana badai pasir Arcopodo!” Sahut Nindya dengan tawa.
                “Arca apa?”
                “Kita udah sampe Arcopodo! Sebentar lagi Kelik.” Kata Nindya. Aku tidak begitu mengerti maksud kata-katanya. Aku hanya melambaikan jempolku yang tertutup sarung tangan dua lapis.
                Di tempat bernama Kelik. Batas vegetasi terakhir menuju puncak Mahameru. Di hadapan kami, pasir terhampar. Jika waktu kecil aku suka menaiki pasir tetangga yang akan membangun rumah dan pasir itu kecil, kali ini pasir ini aku yakin mampu membuat ribuan rumah.
                “Ini Cemoro Tunggal.” Kata Nindya menunjuk salah satu pohon cemara. Sebenarnya, satu-satunya pohon cemara. “Siap yah, perjalanan sesungguhnya baru dimulai.”
                Aku memperhatikan sekitar, sebelah mana kiranya tempat flm 5 sentimeter syuting? Aku tidak bisa mengenalinya sama sekali. Semua terlihat sama. Berpasir. Dingin. Gelap. Dan di depanku hanya ada pantat Rena. Aku memilih menunduk.
                Lima langkah kami mendaki, dua langkah pasir itu turun ke bawah. Terus seperti itu. Aku mulai putus asa. Jari jemari tanganku tidak mampu merasakan apa-apa. Aku kesulitan membuka syal yang membekap hidungku semakin erat. Mataku sakit kemasukan pasir dari pijakan Rena dan tubuhku menggigil hebat.
                “Sehat semuanya?” Tanya Nindya, sekali lagi. Kemudian dia terbatuk. Pasir pasti masuk ke dalam tenggorokannya. Aku berlari ke arah Nindya, memberikan air padanya dan mengestafetkan air itu pada yang lain.
                “Nind, tukeran! Aku di paling depan.” Kata Citra. Nindya mengerutkan keningnya. Aku menatap Citra. Untuk apa bertukar posisi? Toh Citra tidak tahu arah yang benar untuk naik.
                “Oke.” Kata Nindya. Ninyda membiarkan Citra berjalan lebih dulu, kemudian Siska. Aura dan Rena sempat ditawari untuk berjalan lebih dulu tapi mereka menolak. “Rian, kamu di tengah, jagain Citra sama Siska. Aku di belakang sama Aura dan Rena. Tetep naik lurus yah.”
                Aku kemudian mengekor di belakang pantat Siska kali ini. Di depanku ada tiga orang gadis yang tidak membuatku bersemangat untuk berjalan. Aku berkali-kali membalik ke belakang, memperhatikan apakah Nindya baik-baik saja. Sejauh ini dia mengikuti dengan baik.
                Kami beristirahat lagi setelah berjalan hampir dua ratus meter kira-kira. Kali ini Rena meminta berjalan paling depan agar dia tidak ketinggalan jauh. Dia merasa bahwa Citra berjalan terlalu cepat hingga dia kesulitan mengikuti dari belakang. Posisi kembali di rubah. Aku masih tetap di tengah.
                Tak lama setelah pergantian itu, Citra menggerutu karena Rena berjalan terlalu lambat. Citra kemudian berdebat dengan Rena tentang tempo berjalan. Apa mau dikata, Rena kelelahan, semua kelelahan. Mungkin hanya Citra bersemangat memaksakan untuk ke puncak.
                Citra berada di posisi paling depan lagi. Kali ini Rena tepat ada di belakang Citra. Citra seperti seorang kusir dengan pecut di tangannya dan Rena yang malang menjadi kuda. Bedanya, sekarang ini kusir berada di depan kuda. Citra memecut Rena dengan kata-katanya yang kasar. Nindya tetap berada di belakang, mungkin tidak mendengar perkelahian antara Citra dan Rena.
                “CUKUP!” Teriakku. “Kita nggak akan bisa ke puncak kalo kayak gini terus! Kita harus kerjasama, CITRA!”
                “Aku disini udah kerjasama! Aku bantuin Rena!”
                “Kamu bukan bantuin, kamu teriakin Rena dari tadi. Itu sama sekali nggak ngebantu Rena!”
                “Apa bedanya sama Nindya? Dia juga teriak-teriak nggak jelas. Kamu nggak marah kan? Ngapain kamu marah sama aku?” Citra berteriak tak kalah keras.
                “Ada apa ini kawan?” Nindya berteriak dari bawah.
                “Udah nggak usah berantem.” Kata Siska. “Kamu, Citra, aku, sama Aura duluan aja. Biar Rena sama Nindya.”
                “Nggak! Nindya nggak akan bisa nanganin Rena kalo ada apa-apa!” Protesku. Rena memiliki tubuh gempal, meski pun tidak segempal Ian di film 5 sentimeter, tapi Rena benar-benar ‘subur’.
                “Ada apa ini?” Tanya Nindya. “Kok teriak-teriak?”
                Aura menjelaskan dengan singkat pembagian kelompok barusan agar kita semua tetap bisa sampai puncak. Nindya tersenyum saja dengan bibirnya yang membiru.
                “Biar aku sama Rena, kalian duluan aja ke puncak.” Kataku.
                “Jangan, gini aja. Rian, kamu ngejagain Citra sama yang lain, aku nggak apa-apa kok sama Rena. Lagi pula aku juga cape. Aku pelan-pelan aja. Udah jangan teriak-teriak. Sampe ketemu di puncak, semuanya!” Kata Nindya. Rena terisak. Mungkin merasa tersakiti karena dia menjadi penyebab pertengkaran kami.
                “Sebentar, Rian. Aku nitipin ini yah. Tolong, bawa ke puncak.” Kata Nindya. Nindya menyerahkan sebuah kertas padaku. Pertengkaranku bersama Citra melupakan tujuanku untuk mengungkapkan perasaan pada Nindya. Aku mengambil kertas di tangan Nindya kemudian dengan sengaja memegang tangan Nindya dan meremasnya dengan erat.
                “Aku tunggu kamu di puncak, Nind.” Kataku. Nindya tersenyum. Setelah itu aku pergi.  Aku tidak membantah kata-kata Nindya. Aku bergerak lebih dulu, membiarkan Citra, Aura dan Siska mengikutiku dari belakang. Aku menggelindingkan sebotol minum san seblok cokelat untuk Nindya.
                Tuhan, lindungi Nindya, bagaimana pun caranya….
                Itu adalah status facebook yang ingin kuutarakan saat itu.

0 comments:

Post a Comment