Mencari Damai bagian 14

—-
                Di depan aula kampus, pertama kalinya aku bertemu dengan Nindya. Nindya menggunakan sebuah topi pelaut berwarna ungu yang terbuat dari karton. Dia sedang dihukum untuk lari mengelilingi aula. Aku memperhatikan Nindya tak berkedip. Nindya menatapku sebentar, melempar senyum tipis tapi terus berlari.
                Waktu itu aku sedang berdiri dengan teman baruku bernama Irwan. Irwan segera berlari mengejar Nindya. Nindya berhenti berlari saat Irwan memanggilnya. Irwan tanpa ragu meminta nomor handphone Nindya. Irwan menunjuk sebentar padaku. Nindya sekali lagi melemparkan senyum manisnya padaku.
                Irwan kembali padaku sambil tersenyum lebar. Irwan mendapatkan nomor handphone Nindya hanya dengan mengatasnamakan aku yang memintanya. Irwan tidak mau membagi nomor handphone Nindya padaku. Aku sudah merayunya habis-habisan. Kemudian aku bertemu Nindya lagi di depan aula, dia masih mengitari aula. Aku tidak berani memintanya langsung. Aku menunduk.
                Aku baru mendapatkan nomor Nindya di semester 2. Itu pun karena aku tidak sengaja satu kelompok dengan Nindya di sebuah mata kuliah. Aku rajin mengiriminya pesan, isinya hanya menanyakan tugas saja.
                Suatu ketika dosenku menitipkan sebuah file yang harus kubagikan pada teman-temanku. Aku tidak membawa flashdisk, Nindya membawa hardisk eksternal dan file itu dimasukan ke dalam situ. Setelah itu minggu tenang sebelum UTS. Nindya pulang kampung, aku tidak sempat meminta file itu. Kemudian Nindya mengirimkannya ke emailku. Aku waktu itu gaptek, aku tidak mengerti fungsi email.
                Aku malu bertanya pada Nindya. Aku bolak-balik membuka folder inbox tapi tetap kosong. Akhirnya aku tidak mengirimkan file itu pada teman-temanku. Dosen itu marah. Aku menceritakan kronologinya. Entah mengapa kemudian semua orang menyalahkan Nindya. Nindya dikeluarkan dari kelas. Dosen itu tidak mau Nindya berada di kelasnya lagi.
                Kemudian setiap mata kuliah dosen itu, Nindya harus ikut dengan kelas lain yang memiliki dosen berbeda. Setelah semester 2 itu berakhir, aku ikut kursus internet di kampusku secara Cuma-Cuma. Disitu, aku baru sadar, file yang dikirim Nindya terlalu besar, maka email itu masuk ke folder SPAM.
                Rian, ini file-nya. Maaf aku pulang kampung, Ibu aku meninggal. Tadi pagi baru dimakamin. Oh ya, kalo Senin depan aku belum masuk, tolong kasih tau aku ada kepentingan keluarga. Sorry smsnya ngga bisa aku bales, pulsa aku habis.
                Itu adalah badan pesan yang Nindya kirim padaku. Dadaku tiba-tiba sesak. Nindya memang tidak kuliah di hari senin itu. Sejak sms terakhir aku meminta dia mengirimkan file itu, dia tidak lagi membalas smsku. Kemudian setelah kejadian dia diusir dari kelas itu, dia mengganti nomornya. Menghapus pertemananku di facebook dengannya. Dan dia pulang kampung karena ibunya meninggal.
                “Kamu nggak ngebela aku. Aku ngerti kok kamu pasti nggak sempet baca email aku itu. Tapi, harusnya kamu cerita kalo kamu gaptek. Harga diri kamu lebih mahal banget.” Kata Nindya. “Aku tau kamu engga tau. Kamu hanya menilai aku seobjektif mungkin, membaca fakta yang kamu tau, sama kayak orang lain.”
                “Sekarang kamu nyalahin aku. Iya aku gaptek! PUAS?” Aku berteriak lagi. Aku kesal pada diriku sendiri. Begitu lemah. Begitu bodoh dan tolol yang diracik menjadi satu. Begitu sombong dengan kebodohan dan ketotolanku yang diracik sempurna itu. Aku enggan melihat kebenaran hanya karena aku tidak mau merasa malu.
                “Dani Cuma bilang, ‘Nind, kalau naik gunung bikin kamu tenang, naik gunung terus. Turunlah ketika kamu siap. Orang lain nggak bisa liat kamu, makanya kamu harus naik gunung. Bukan biar kamu bisa ngeliat dunia. Tapi biar dunia bisa melihat kamu.’ Maka kamu benar, Rian, hanya aku yang bahagia ketika perjalanan ini dimulai.
                “Itu juga alasan aku kenapa aku lebih memilih Dani, orang yang baru aku kenal. Dan melepaskan kamu. Karena aku bakal terus sendiri meski pun ada kamu. Bukan aku yang harusnya ngeliat tepat ke depan. Tapi kamu, Rian.”
                Nindya menerobos padang lavender di hadapannya. Aku masih berdiri mematung. Kali ini rasanya tidak sakit. Dadaku membentuk lubang berbentuk huruf O yang berbunyi oooo, panjang dan penuh pengertian.
                Nindya tidak lagi memasak atau membantu membangun tenda. Dia hanya duduk di atas matrasnya. Tertidur di dalam sleeping bagnya. Hanya bergerak sesekali untuk batuk atau menggaruk. Aku tidur di luar tenda lagi. Semalaman aku berharap Nindya bangun lagi untuk bicara denganku. Tapi tidak. Dia tidur. Hanya tidur.
                Aku memasak makan malam. Kami tidak membangunkan Nindya, tidak menawarinya makan atau minum. Kami berlima memang tidak merasakan bahagia yang Nindya rasakan dalam perjalanan ini. Hati kami bukan lapangan sepak bola yang dengan lapang menerima hujan, ditumbuhi rumput liar, diinjak para pemain bola dan menangkap tubuh-tubuh korban sliding tackle di atasnya. Bukan. Kami bukan itu.
                Besok paginya, ketika aku bangun, Nindya sedang bergabung dengan kelompok lain yang sedang berfoto saat matahari terbit. Tidak sepatah kata pun dia keluarkan untukku. Tidak menyesakkan dada. Hatiku masih berbunyi ooooo, panjang dan penuh pengertian.
                Sampai di Ranu pane, aku mengeluarkan surat cinta Nindya dan menempelkannya di papan vandalisme. I love you, kemudian lukisan wajah Dani. Pacar, calon suami dan seorang kekasih yang memenangkan hati Nindya.
                Di perjalanan pulang, aku benar-benar mengintrospeksi segalanya. Aku mengerti mengapa Nindya tidak pernah mendebatku. Tidak pernah menunjukan kemarahannya. Juga tidak pernah tidak ramah padaku. Karena aku memang orang bodoh yang sombong.
                Dani memang satu-satunya orang yang bisa membuat Nindya merasa dimengerti. Diam dan cerewetnya. Ketika dia eksis dan ketika dia menghilang begitu saja. Ketika dia teriak dan menangis. Hanya Dani.
                Bisa kuprediksi Dani akan menghajarku habis-habisan jika Nindya bercerita betapa brengseknya aku meninggalkan Citra, Aura dan Siska terkena hipotermia dalam perjalanan menuju puncak. Aku juga meninggalkan Nindya dengan Rena.
Aku benar, Nindya menahan perasaannya padaku. Tapi itu bukan perasaan cinta. Ada kejujuran yang ingin Nindya sampaikan. Tapi dia tahu bahwa nalarku tidak akan mampu menggapainya tanpa perjalanan ini.
                Nindya harus mengajakku bepergian ratusan kilometer dari Bandung, berjalan hingga ke atapnya tanah Jawa. Agar aku bisa menerima kenyataan. Aku memang bodoh dan tolol, tapi aku bukan penyangkal. Aku memang tidak pernah mau melihat sesuatu dari sisi Nindya.
                Kereta melambat. Bersiap memasuki peraduan sementaranya, stasiun Bandung. Kami berbaris menuju pintu keluar gerbong. Nindya berdiri tepat di depanku. Carriernya yang penuh itu menghalangi tubuhku untuk berdempet lebih dekat dengannya. “Nind,” aku memanggilnya sambil menepuk pundaknya dua kali.
                Nindya menoleh. Menatapku. Tidak tersenyum. “Apa?” tanyanya. Bukan berarti tidak ramah. Setelah apa yang terjadi, dia tidak mungkin tersenyum dengan tulus kan?
                “Aku minta maaf.” Kataku. “Kamu ngajarin aku banyak hal. Sejak kenal sama kamu, ada rasa ngeganjel di dada. Itu bukan jakun aku yang ketelen, Nind.” Aku sedikit terkekeh. Tapi Nindya menatapku serius. Sambungan gurauanku mungkin belum sampai pada otaknya. “Aku berusaha menghindari sekuat tenaga untuk suka sama kamu. Tapi aku nggak bisa. Kamu Cuma perlu tau. Di dada ini, akhirnya aku merasa damai. Aku menemukan damai yang aku cari.”
                Kereta berhenti. Remnya kali ini tidak mulus. Para penumpang terdorong oleh gaya sentripetal. Semua sekarang saling mendorong. Aku kehilangan kata-kata lagi. Aku tidak tahu harus bicara apa disaat terakhir ini.
                “Oh ya, kalo kamu menikah. Aku tetep mau diundang. Tolong yah. Aku janji Cuma makan satu porsi.”
                Nindya tidak menjawab. Dia melompat turun dari kereta itu. Aku kemudian mengikuti langkahnya. Aku masih memikirkan kata-kata apa yang cocok untuk diucapkan sebelum perpisahan ini. Tapi tidak ada. Aku tidak menemukannya.
                “Bulan depan Rian. Janur kuning itu melengkung bulan depan. Kamu tau rumah aku kan?”

0 comments:

Post a Comment