Skip to main content

Posts

Showing posts with the label cerpen

Mencintai Fira

Aku menjadi saksi bahwa tidak semua cinta dapat bersatu dalam satu ikatan. Meski disertai ketulusan dan keseriusan sekalipun. Itulah yang kurasakan pada seorang gadis bernama Fira. Aku benar-benar mencintainya, sejak pertama kali bertemu dengannya 20 tahun lalu dan sampai hari ini. Orangtua kami melarang hubungan yang akan ingin kami jalani. Perbedaan usia adalah jembatan penghalang untuk kami bersama. Aku bahkan tidak pernah meminta untuk jatuh cinta pada Fira, saat pertama kali menatap matanya yang teduh itu aku seperti tersihir. Meskipun sudah kucoba menarik kembali hatiku sekuat tenaga, nyatanya aku tidak mampu. Aku sudah jatuh cinta padanya begitu dalam meskipun hanya sekejap mata bertaut. Lagi pula saat itu Fira memberikan hatinya untukku, mengapa orang-orang terus mengulang kisah sedih Romeo dan Juliet? Mengapa kami tidak bisa bersama? Aku dan Fira terpaksa berpisah 20 tahun lalu. Orangtua Fira membawa Fira pergi entah kemana. Saat itu perasaanku hancur, itulah pertama kaliny...

Ayahku Si Malaikat Berkantol

Ada 3 orang yang kuanggap bukan lelaki di dunia ini. Mereka adalah kakekku, ayahku dan adik lelakiku. Bagiku mereka bertiga tidak termasuk dalam kategori lelaki. Lelaki dalam bayanganku adalah seorang dengan jenis kelamin pria yang suka menyakiti hati wanita. Kakekku tidak, setidaknya itulah yang kulihat sampai nenekku meninggal. Kakekku tetap setia kepadanya hingga ajal menjemput. Ayahku, meski pun adalah lelaki pemarah tapi mencintai ibuku, itulah yang kulihat dalam kesehariannya. Adikku, meski pun dia masuk kategori lelaki dalam bayanganku, aku tetap akan menganggapnya bukan sebagai lelaki. Dalam kehidupan percintaanku, aku mengenal banyak lelaki. Lelaki-lelaki itu mengajarkanku banyak hal, kebanyakan dari mereka adalah temanku. Aku melihat dari dekat kehidupan mereka sehingga aku bisa mempelajari mereka. Hampir semua pria yang dekat denganku masuk dalam kategori lelaki. Mereka brengsek, penipu, pembohong dan menganggap wanita hanya sebagai objek saja. Awalnya mengenal mereka...

Rachel

Semenjak kecil, aku selalu menginginkan untuk menjadi seorang penyanyi. Bernyanyi di atas panggung besar, dilihat oleh ribuan penonton. Tubuhku bermandikan ratusan cahaya yang membuatku menjadi satu-satunya titik perhatian di atas panggung. Kemudian mereka akan bersorak bahagia saat mendengarkan suaraku. Aku ingin merasakan riuh tepuk tangan penonton yang puas setelah mendengarkan suaraku. Aku berlatih suara dengan seorang guru vokal. Berlatih berbagai macam alat musik, dialah yang mengajarkanku dan mengenalkanku pada pintu ke mimpi besarku itu. Guru vokalku bilang bahwa aku akan bisa menjadi seorang penyanyi terkenal suatu saat nanti. Ketika aku bernyanyi diiringi piano guruku, aku sering membayangkan mimpi besarku itu. Sayangnya keluargaku tidak mendukung mimpiku tersebut. Ibuku menginginkanku untuk bekerja di sebuah bank swasta agar aku bisa membiayai sekolah adik-adikku dan menjadi tulang punggung keluarga. Meski pun aku sudah memenangkan lomba menyanyi hingga tingkat ko...

Timeless Love

                Hari Senin, Siska pergi ke bank. Adalah rutinitas bulanannya untuk mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung. Biasanya, Siska akan diantar oleh Agung, tunangannya. Tapi pagi itu, Agung harus berpatroli pagi. Maka Siska berangkat sendirian ke bank itu.                 Tak disangka, di dalam bank itu duduk 5 orang pria yang gerak-geriknya mencurigakan. Segera setelah Siska menyerahkan uangnya ke teller, salah seorang pria berteriak sambil mengacungkan senjata apinya. Semua orang berteriak histeris. Reflek, Siska melindungi kepalanya dan berjongkok di lantai.                 Siska dan beberapa nasabah lain telah menjadi sandera aksi perampokan bank. Seorang pria yang tadi mengacungkan senjata api meminta petugas teller memasukan uang ke dala...

Mimpi

                Aku bernama Mimpi. Aku bisa menjalar di kepala siapa saja yang kukehendaki. Mereka menyukaiku, aku pun menyukai mereka. Aku bisa memunculkan berbagai macam ide, seperti menanamkan benih di ladang. Aku bisa menanamkan benih kebaikan, juga keburukan. Atau bahkan tidak menanam sama sekali.                 Aku Mimpi. Aku seperti tanaman rambat, seperti sel kanker yang dengan mudahnya menyebar. Aku bisa menggunakan organ tubuh dari korbanku sesuka hatiku. Aku bisa membuat mereka seperti melayang hingga akhirnya aku dorong mereka ke jurang dan mereka menyadari bahwa mereka baru saja jatuh dari tempat tidur.                 Aku bisa menjelma di waktu senggang, pun sibuk. Aku bisa menjadi khayalan yang terlalu nyata untuk dilupakan. Atau bisa jadi...

aku bicara tentang DOSA

Aku mau bicara tentang dosa. Apa itu dosa? Semua orang mengelu-elukan kata "dosa". Aku terlalu muda untuk mengerti apa itu dosa. Aku belum "terlalu" berlumuran dosa, setidaknya tidak seperti kau. Ya, untuk apa kau mencari orang lain? KAU itu kau, yang matanya menelusuri tulisanku ini. Tapi, untuk apa aku berteriak tentang "dosa" juga? Apa urusanku dengan dosa? Para kaum muslim, pastur-pastur, biarawan dan biarawati, biksu dan bikuni, pemuka-pemuka agama saling silang meneriaki satu sama lain sebagai "pendosa". Apa itu pendosa? *** Siang ini, aku sedang duduk di ruang tengah sendirian. Kupandangi layar kotak dengan gambar yang terus bergerak dan berpindah tiap detiknya. Dia adalah televisi, Tuhan-nya manusia masa kini, kepadanyalah doa-doa dipanjatkan dan juga kepadanyalah air mata berlinangan, apalagi ketika [si] Tuhan sudah digondol maling. Mataku semakin lelah, televisi terus memutar gambar dengan warna-warna mencolok yang tak bisa kueja ...

kenangan SPAM

"Mana emailnya?" "Udah dikirim, coba kamu liat deh..." "Ah ga ada! udah ta liat!" "Masa sih? Ntar deh aku kirim lagi..." "Ga mau! Pengen sekarang pokoknya!" "Saya lagi sibuk, besok yah?" "GA-MA-U. Pengen sekarang!" "Maaf banget, kalo sekarang ga bisa." "Kamu kok gitu sih..." "Iya, iya deh... Jam 11 siang aku kirim lagi ke kamu. Oke? Sekarang, kamu jangan marah yah, jangan cemberut, saya sayang banget sama kamu..." Jam 11 siang. "Mana? Kok masih belom ada sih?" "Udah saya kirim kok, tadi jam 10, pas istirahat sekolah, saya langsung lari ke warnet, masa sih ga ada?" "GA-A-DA!!!" "Bentar deh saya ke warnet lagi, ntar saya kirim." Tak lama, puluhan email berisi pertanyaan, 'udah ada belom', memenuhi inbox dan jawabannya selalu, 'mana? ga ada!' "Maaf yah, saya hari ...