Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

Arryath

Aku teringat perjumpaanku dengan seorang anak lelaki dengan rambut hitam ikal dan kulit gelap. Meskipun kulitnya gelap, dia begitu bersih dan dia mempunyai senyum yang manis. Bagiku dia mirip seperti Jacob Black di film Twilight . Seperti seorang pemuda Indian dengan tatapan bersahabat dan menenagkan. Aku juga masih ingat pertama kali aku bertemu dengannya, 3 Agustus 2011. Seperti tanggal yang sakral, aku mengingat tanggal itu, juga namamu; Arryath . *** Itu adalah hari pertamaku mengajar di kelasmu. Pertama kalinya aku masuk ke sebuah kelas dengan siswa yang nyata, bukan mahasiswa microteaching yang dibuat pura-pura blo’on . Tapi kalian cerdas, terlalu cerdas untuk anak seusia kalian. Di hari pertama aku bertemu denganmu, kau mengacuhkanku, sama seperti anak-anak lain yang menganggap guru hanya sebatas pajangan di kelas. Lalu aku mulai mencari cara bagaimana agar konsentrasimu dan perhatian kelas tertuju padaku. Saat itu aku bilang, i insist ! Aku mulai bercerita tentang Adam...

untukku

Ini bukan sebuah puisi, ketika bahasa itu membicarakan alpha dengan kata beta, ketika daun disebut bunga, ketika dunia diucap surga. Tidak, aku tidak bsa berkata seperti itu.aku suka angka 1 dan 0 tetap menjadi kode biner nol dan satu bukan menjadi angka sempurna 10 hasil kombinasi ada dan maya. Ya karena aku melihatmu. Aku tidak melihat kuku-kuku tangan dan kakimu seperti mutiara, kristal atau entah apa, tapi aku suka. Bahkan tidak ada sesuatu yang ada padamu menyerupai bintang, pelangi, nada, puisi... Tidak juga sama skali. Lagi-lagi aku melihatmu. Aku suka kamu. Aku suka kamu. Aku suka kamu, bukan yg lain. 7 oktober 2011 00:02

di ruang VIP Tu(h)an

"Tu(h)an..." Teriak seorang gadis di salah satu pilar penyangga langit. Dia melepaskan satu pesawat kertas berwarna putih. Di dalamnya, hanya terdapat beberapa kalimat tanya. Dan aku tahu kemana surat itu akan berlabuh. Aku tengah membelot dari jam kerjaku dan kerjaku yang selalu biasa-biasa saja. Aku bosan. Bosan dengan keadaan yang seperti ini. Aku seperti berpijak di atas lantai pasir hisap. Aku bisa terhisap dan menghilang selamanya. Maka aku pergi dari ruanganku, bergegas menuju ruangan VIP-Mu. Kuterobos semua orang yang berusaha menghalangi langkahku. Aku bukan pegawai-Mu yang biasa-biasa saja. Aku bisa sekafir Fir'aun jika kau mempermainkanku terus menerus. Di depan ruangan-Mu, aku tak lagi mengetuk pintu-Mu yang begitu megah. Kudobrak lalu kugebrak meja di hadapanku, agar kau tahu aku sudah sangat muak dan marah. "Tu(h)an," kataku lancang. "...aku mau kau jadikan pegawai seperti apa? Aku bosan!" "Apakah aku kurang menggajimu?...

5 cm (kataku)

Aku mengenalmu dalam ketidaksadaranku. Aku tahu kau ada. Tapi tak pernah memperhatikanmu. Kau adapun aku tak tahu. Kau tak adapun aku tak peduli. Kau jauh atau dekat tak ada bedanya bagiku. Kau bersama siapapun semua terlihat sama untukku. Aku mengingatmu karena kau mengingatku. Karena kau mengingatkanku. Karena kau terus memaksa otakku mengingat namamu. Aku ingat namamu. Tapi tidak wajahmu. Kau, yang namanya 5 cm di depan keningku. Kau, yang wajahnya 5 cm di belakang kepalaku. Aku kadang melupakanmu berbulan-bulan. Pernah bertahun-tahun. Kemudian aku mengingatmu kembali saat mendengar kata-kata yang pernah diucapkan olehmu. Childish . Aku didepan matamu adalah seorang dengan kepribadian childish. Entah mengapa aku juga tak bisa mengelak saat kau memanggilku seperti itu. Kau, adalah orang yang datang di waktu yang tak pernah tepat. Kau, mengajarkanku membaca saat aku buta. Kau mengajarkan aku berjalan saat aku tertidur. Kau mengajarkanku bicara saat aku lebih suka mengulik rumus-rumus ...

menertawakan kejujuran

Aku lagi-lagi menertawakan kejujuran seseorang padaku, mungkin kali ini lebih tepatnya aku menolak kejujuran seseorang padaku, aku mengejek kejujurannya dan tak mampu memaafkan kejujurannya.Aku ingin sekali menjadi manusia yang menghargai kejujuran, sekecil apapun itu atau bahkan sehebat apapun kejujuran itu. Aku ingin belajar menerima, tapi semuanya terasa sulit jika kejujuran itu berisi rasa pedih yang akan mengiris hatiku. Aku bisa menerima ketika dia bilang batal beberapa kali di bulan puasa, mungkin saja aku bisa menggunakannya sebagai ejekan karena kejujurannya tak berisi rasa pedih yang bisa menyakitiku. Tapi... kali ini aku muak! Dia menipuku, saat kejujurannya terungkap, aku merasa sangat lega, sangat lega karena selama ini aku menjadi bagian yang ditutupi dari dunia olehnya. Mungkin aku harus belajar untuk memaafkan dia tanpa harus mengungkit luka dari kejujuran yang dia ciptakan... 9 september 2010

sebuah puisi untuk sahabat

kawan, hidup memberikan kita jutaan pilihan, tapi juga menebar seribu jalan takdir yang harus kita tempuh... memilih jalan itu seperti memasukan tangan kita ke dalam sebuah kantung bernama kehidupan, yang berisi emas dan duri, terkadang kita baru menyadari apa yang kita peroleh setelah kita terluka olehnya. Suatu saat, semua yang kita miliki akan menjadi tiada, meninggalkan atau tertinggalkan, itulah hukum yang berlaku disini. Seperti kemarin, kita bisa tertawa bersama dan kini aku meninggalkanmu menangis seorang diri. Aku, dengan tangan menengadah ke langit, lututku yang bersimpuh diatas tanah ini, berdoa untukmu... kutahu, ribuan kata yang kuuntai takkan mampu menghapuskan lukamu, apapun yang kuberikan takkan menggantikan kehilanganmu, tapi bersabarlah kawan... Tuhan sedang mengujimu, membiarkanmu mengecap rasa kehilangan yang amat dalam lebih dahulu, mungkin esok orang lain akan mengecap rasa yang sama sepertimu. Bersabarlah... Biarkan air mata mengiringi kepergiannya...

air mata kemarin

Aku tersungkur dalam kegelapan... Mataku terbutakan oleh makanan yang ada didalam perangkap... oleh siksaan dalam kata-kata manis... Aku hanya ingin menyendiri... menangis didalam hujanku setiap hari tanpa memperdulikan sekelilingku Aku hanya ingin berteriak... "KEMBALIKAN DUNIAKU !" hingga aku bertanya... "Memangnya... Seperti apa duniaku ? Apakah duniaku yang sebelum ini lebih baik ? Tidak... Dulu aku menangis dalam hujan... Tanpa alasan... Merasa tersakiti... oleh kata-kata yang tak terucapkan... Merasa sendirian... padahal tak seorangpun meninggalkanku... karena aku memang hidup sendirian... Merasa jauh... sebenarnya aku berada ditengah kesunyian dan tak pernah ada seseorang disampingku." Aku berdoa untuk... seseorang yang kucintai... tapi... siapa ? aku bahkan tak bertemu dengan siapapun selama ini. lalu... siapa yang kucintai ? apakah dia adalah orang yang menatapku saat aku melihat diriku didalam cermin ? "Aku ...

Dialog antara Tuhan dan aku

---Ketika aku sudah menjatuhkan pilihan Tuhan merangkul pundakku, berbicara dengan suaranya yang lembut dan halus, "Aku sedang mempersiapkan sebuah hadiah untukmu." katanya. Aku tersenyum, "Hadiah apa, Tuhan?", diapun menjawab, "Oh, kau telah menlihat kisi-kisi hadiahnya, begitu indah, bukan? Itu adalah hal yang paling kau inginkan selama ini, aku tak perlu lagi menjelaskan tentang apa isi hadiah itu." "Ya, Tuhan. Apakah dia adalah hadiahku?" "Kau menginginkannya?" "Ya, sangat." "Percayalah padaku, seperti dahulu, seperti biasanya, dan seperti yang akan terus kau lakukan, kau harus mempercayaiku... Aku tak pernah mengecewakanmu, bukan? Kujamin, hadiahku takkan ada satu goresanpun yang akan membuatmu merasa merugi. Jika kau inginkan dia, kau bisa memilikinya, tapi kau akan mengerti... Bahwa kau layak mendapatkan lebih, lebih dari apa yang kau miliki sekarang." Aku merenung, memikirkan tentang tawaran Tuha...

renungan sahur

Setiap tahun, setiap Ramadhan, aku selalu sahur di rumah, tak pernah sekalipun terlewat tanpa sahur bersama keluargaku di rumah, di atas meja makan yang sudah ada bahkan sebelum ibuku lahir. Selalu makan masakan ibuku dan selalu berbicara panjang lebar tentang mimpiku tadi malam, mimpi adikku, film tadi malam atau bahkan mengulang kejadian lucu di saat taraweh bersama. Selalu seperti itu, tak pernah kulewatkan seharipun tanpa itu. Hingga akhirnya 17 agustus 2010 adalah sahur pertamaku di luar rumah, langkahku begitu berat ketika aku harus menyusuri jalan raya di jatinangor yang sepi bersama 2 adik kelasku. Saat kami memasuki sebuah rumah makan, aku melihat makanan yang tersedia disana, tak ada yang menarik untuk kumakan, sempat aku berpikir untuk sahur hanya dengan biskuit dan air putih, tapi kuurungkan niatku karena hari itu adalah hari besar, akan menjadi hari yang panjang di sejarah bulan ramadhanku. Akhirnya aku menjatuhkan pilihan di soto lobak dan telur balado, karena tak ada m...

"Kejujuran yang kutertawakan"

" Bagaimana kita bisa hidup didunia ini jika kejujuran itu ditertawakan? " -Botchan- Siang itu, seorang anak menghampiriku. Mukanya lesu dan bibirnya pucat. Dia berdiri dihadapanku dan dengan suara setengah berbisik, dia bicara padaku, "Teh, hari ini saya ga puasa soalnya saya lagi sakit, boleh ga kalo saya minum obat?" "Ya boleh aja, sok sana minum obatnya..." Kataku. Kemudian anak itu berterimakasih padaku dan pergi. Tak lama kemudian, aku melihatnya menelan beberapa butir obat dan meneguk air di botol. Saat aku sedang diam dan memperhatikannya dari kejauhan, aku justru mulai menertawakan kejujuran anak tadi. Untuk apa dia mengaku padaku bahwa dia sedang tak berpuasa dan meminta ijinku untuk meminum obat? Apakah karena aku seniornya maka dia merasa lebih takut padaku daripada takut pada Tuhan? Perutku serasa digelitiki oleh ribuan tangan jahil dan aku mulai tertawa sambil menghela nafas panjang. Mengapa aku harus menertawakan kejujuran anak tadi? ...

cerita sore

sore ini aku sedang duduk diantara dunia nyatanya manusia lain yang mereka sungguh tak sepertiku... aku duduk ditengah2 mereka tapi aku merasa berada di ujung dunia dimana mereka tak bisa menyentuh apa yang kupikirkan... setiap kata yang mereka keluarkan hanya membuatku semakin berpikir bahwa aku memiliki sebuah dunia sendiri diluar dunia mereka... padahal aku berdiri tepat dibawah langit yang sama yang menaungi kepala mereka... matahari dan bulanpun beredar tepat diatas kepala kami tapi yang kurasakan... aku memiliki matahari yang terasa lebih kecil dan aku merasakan kata-kataku lebih tinggi dari matahari... entahlah mungkin aku terlalu perasa hingga semua yang hal yang terjadi di sekelilingku terjadi begitu membosankan... jadi duduklah aku sendiri termenung dalam surga duniaku tanpa ada seorangpun yang menyadari kehadiranku... terkadang aku ingin tertawa betapa aku ini dianggap mereka tak ada... tapi aku terkadang bersyukur karena dengan begitu aku bisa berlama2 dal...

cerita pagi

Ibuku baru saja terbangun dari tidurnya ketika mendengarku memindahkan printer dari kamar ke ruang belajar. "Baru bangun?" Tanyanya padaku, aku berkelit sedikit. "Ya, terus ngerjain tugas." "Beneran?" Tanya ibuku lagi, kemudian aku hanya bisa cengengesan tanpa berkata-kata apapun lagi. "Harusnya kamu tidur, tugas bisa dikerjain nanti... engga perlu sampe engga tidur kan?" "Sayangnya harus dikerjain, dan engga ada nanti..." "Emangnya tugas perorangan?" "Ada kelompok juga sih." "Terus?" "Yang laen udah bantuin nyetor data, sisanya aku yang ngerapiin..." "Masa?" "Iya." Kataku berbohong lagi. Entah sudah keberapa kali ibuku memergokiku di subuh masih dengan mata terbuka dan mengambil barang2 ke dalam kamar, dari mulai kertas print, printer, gunting, lem, bahkan hingga makanan atau minuman. "Lain kali, suruh temen kamu yang ngerjain, jangan kamu doang." "...

Oksigenku

Kau adalah kumpulan oksigen diudara... melayang didekatku dan membuatku hidup... tapi lama kelamaan... Aku tak bisa bernafas tanpamu... namun Akupun tak bisa bernafas denganmu... Kau adalah oksigen, segala yang kubutuhkan dalan hidupku... Tapi mengapa semuanya tak semudah itu? Tanpamu, aku mati... denganmu, kurasakan rasa sesak didadaku yang tak bisa kuabaikan begitu saja... Aku sungguh ingin hidup denganmu, oksigenku... Tapi semuanya menyakitkan saat aku bernafas denganmu... Oksigenku, dengarkan aku... menahan nafasku tanpamu selama ini, membuatku semakin sakit... melemah dan bersiap mati...   Oksigenku, kumerindukanmu...

Buku-buku belajar

Dalam perpustakaan tua dan usang.... Aku adalah buku biologi yang berkata bahwa satu makhluk dengan makhluk yang lain berkesinambungan dan membentuk simbiosis, dan simbiosis yang kumaksud adalah mutualisme... kau adalah buku roman cinta yang dengan angkuhnya berkata tentang agungnya cinta dan mentuhankan cinta itu... memaksa semua orang untuk mengatakan cintanya, menembus semua dinding etika dan norma seperti romeo dan juliet... Suatu ketika buku biologi dan buku roman ini berhadapan, saling berargumen... Buku roman terus memaksa buku biologi untuk berkata bahwa simbiosis itu adalah sebuah perasaan cinta dan tak ada yang lebih menyenangkan dari kata cinta yang diungkapkan... Aku berlari menghindari buku roman yang terus memaksaku mengubah simbiosis menjadi cinta... kau tahu kenapa ? karena konsep kita berbeda... cara kita memandang sebuah hubungan 2 makhluk yang berbeda sangat berbeda... simbiosis mutualisme adalah ketika aku menjelaskan tentang kesinambungan itu dengan bahasa baku tak...

koin-koin kehidupan

Kita bagaikan 1 koin dengan 2 sisi... berputar mengelilingi dunia, seolah tak mengenal satu sama lain... merasa kesepian padahal kita adalah satu. Hingga suatu saat aku mengetahui kehadiran sisi lain dalam koin tubuhku... kau merasa senang bertemu denganku, tapi aku adalah sisi lain kehidupanmu, jika kau bawang putih, maka aku adalah bawang merah, aku begitu membenci kehadiranmu... Lama kau membuatku mengerti tentang kehadiranmu, tapi itu hanya buang2 waktu dan akhirnya kau menyerah, melepaskan diri dari sisiku dan mencari sisi lain yang cocok. Saat itu aku merasa kesepian, aku terus mengelilingi bumi sendirian. Hingga aku melihat koin lain yang membuat gerigi roda, mengajakku untuk menjadi bagian dalam perjalanan, kupikir itu akan menyenangkan karena aku tak pernah menemui koin manapun secara berhadapan... Aku masih mengosongkan satu sisi dalam kehidupanku untukmu agar kembali di sisiku, tapi... "Nafas kebencianku terlahir saat terungkap kemunafikanmu." "...

Puisi dari Z

Karena saya rindu kamu......... Wajah kamu..... Senyum kamu......... Suara kamu.......... Kebaikan kamu....... Marah kamu......(he2x) Saya ingin berada disamping kamu......... Dengan foto ini, dimanapun * BERADA....sejauh apapun jarak kita.....jarang bertemu.........saya akan ingat kamu.... Puisi : FOTO DIRIMU....HARI MINGGU..... KUSIMPAN DI DALAM HATIKU.. SERIUS KU TATAP.... HATI MENJADI FIGURAMU...... PENUH RINDU KU TATAP.... PENUH SAYANG KU HARAP... Jadi teman dalam kesepian KU.. INDAH MEMPERCANTIK KESENANGAN JIWAKU..... FOTO DIRIMU....FOTO DIRIMU... KU BULAK - BALIK....KUPANDANG... FOTO ITU SEGAR...DENGAN MANISMU..... FOTO DIRIMU..... MEWAKILI WAJAH MU.....SEBAGAI TANDA SETIA.... AGAR KU PAHAM........ MUNGKIN KAU BISA MENJADI MILIK KU... WALAU TERBENTANG JAUH....FOTO KAMU.... FOTO KUBAWA....HANYA FOTOMU....

Puisi dari diary lama

Aku mencintaimu dengan cara yang berbeda,, aku berlari seolah meninggalkanmu tapi asal kau tahu aku menunggumu dipersimpangan jalan,, tapi kau tak pernah tahu,, roda kehidupan berjalan seiring kekecewaanmu padaku,, kau membuatku menangis malam ini,, kau mau aku sangat memperhatikanmu., namun hatiku tak terbuka hanya karena cintaku,, abu cinta bertebaran didepanku darimu,, kini kau membuatku menangis lagi,, kau membiarkan dunia menghempaskanku dalam kehidupan, lagi,, Aku bukanlah debu yang hilang, juga bukan lagi puzzle yang cacat atau duri dalam daging,, anggaplah aku seorang manusia, bukan boneka marionet atau barbie dalam rumah kaca,, senyumku nyata, bukan rekayasa genetika atau pembalasan pedih,, aku berputar dalam angin, merasakan belaian indah pelangi dan hembusan awan,, tangkaplah aku seperti mimpimu,, aku bukan angan angan,, Aku mencintaimu dengan nada yang berbeda,, dalam lagu pelan penuh arti,, kau menatapku kasar jika kulantunkan lagu cinta ini,, mendendang sambil m...