Mencari Damai bagian 6

—-
                “Nggak usah pake anjir kayaknya bagus deh, Rian.” Protes Siska. Ya, ada Siska, Citra, Rena, Aura, Nindya dan aku. Enam orang yang berusaha mencapai puncak itu.
                “Puncaknya dimana Nind?” Tanyaku.
                “Dimana yah? Aku juga nggak tau. Aku baru pertama kesini, inget kan?” Jawab Nindya sambil celingukan mencari puncak Mahameru. Nindya kemudian dipanggil oleh supir jeep itu. Nindya mengeluarkan uang kemudian supir itu menjabat tangan Nindya dan supir itu pergi. “Kita registrasi dulu yah. Sebentar.”
                Hanya lima menit Nindya berbicara dengan petugas di Ranu Pane itu, kemudian petugas itu menunjuk sebuah jalan aspal menuju lahan warga. “Ikutin jalannya terus belok ke kanan.”
                Nindya memimpin doa bersama kemudian kami memulai perjalanan. Nindya berada paling depan. Berjalan dengan kikuk tapi semangat. Tangannya berulang kali membetulkan letak carrier yang mungkin tidak nyaman di pundaknya. Kami sempat berfoto di sebuah gapura yang bertuliskan selamat datang.
                Kemudian kami berjalan mengikuti jalan setapak kecil kemudian menanjak. Setelah itu, kami dihimpit oleh semak, menyusuri jalan kecil yang menurutku entah akan membawa kami kemana. Aku hanya tahu kami butuh terus berjalan.
                Entah jam berapa, kami sampai di Landengan Dowo. Kami tahu itu ada di Landengan Dowo karena disana ada sebuah papan yang menunjukan bahwa kami berada di sana. Kami beristirahat disana. Nindya mengeluhkan nafasnya yang sesak. Kami istirahat lama.
                Kemudian meneruskan perjalanan hingga sampai di Watu Rejeng. Watu Rejeng adalah sebuah tempat dibawah gunung batu yang terukir alami oleh cuaca. Ada batu berbentuk dinosaurus, wajah manusia, kambing, ayam, tapi yang jelas wajah Nindya menari-nari dalam pelupuk mataku.
                Aku takjub dengan segala hal yang ada di tempat ini. Salah satunya adalah keberadaan paving block sepanjang jalan ini. Maksudku, orang yang menyimpannya disini benar-benar sangat berniat! Di carrierku ini aku mendapat banyak titipan barang dari gadis-gadis di hadapanku, aku merasa malas membawanya tapi karena aku satu-satunya laki-laki disini, mau tidak mau aku harus membawanya. Padahal, aku juga lelah. Punggungku tersiksa membawa beban sebanyak ini.
                Saat semangatku semakin lama semakin pudar, Nindya membalikkan tubuhnya. Menanyakan keadaan kami kemudian mulai menghitung. Kembali. “Enam!” kemudian dia tersenyum ke arahku. Aku selalu bisa menggenapkan perasaan Nindya.
                Semakin lama, kami semakin banyak beristirahat. Matahari sudah tergelincir ke barat. Suasana mulai menggelap. Kami masih berjalan.  Suara lenguhan, dengusan kesal dan lelah semakin sering terdengar. Ya, kami semua mempertanyakan, kapan kami akan sampai? Angin berhembus semakin kencang, seolah ada sesuatu yang mengejar kami dari belakang. Jika kami tidak segera sampai di tempat tujuan, maka entah apa yang akan terjadi.
                Bruk. Aku menabrak carrier Citra yang berada di depanku. Dan kami semua saling menabrak carrier di depan kami. Nindya berhenti mendadak. Nindya berdiri mematung.
                “Ada apa sih Nind? Kok berhenti mendadak? Jangan istirahat dulu. Udah mau gelap nih.” Kataku. Nindya tidak menjawab. Dia berjalan perlahan lagi kemudian berbalik. Menahan senyumnya. Wajahnya pucat, bibirnya pias. Aku mulai khawatir.
                “Kalian nggak akan percaya ini.” Katanya. Keningku berkerut. Percaya apa? Percaya bahwa dia akan pingsan sebentar lagi?
                “Kenapa?” Tanya Siska.
                “Selamat malam, Ranu Kumbolo.” Kata Nindya. Menunjuk pada satu titik berwarna biru tua. Aku memincingkan mataku. Mencoba memahami maksud Nindya dengan menunjuk titik berwarna biru tua itu.
                “Itu Ranu Kumbolo?” Aura mulai bersuara. “Ayo kita cepet jalan biar cepet sampe!” Serunya bersemangat. Padahal wajahnya sudah memerah kelelahan.
                Itulah Ranu Kumbolo. Sebuah danau yang diapit bukit-bukit. Sebuah zamrud yang dikelilingi bukit emas. Indah. Hanya itu kata yang terlintas dalam benakku. Sejenak aku lupa tentang Nindya. Ranu Kumbolo mencuri perhatianku. Tanpa kusadari, aku berjalan semakin bersemangat.
                Kukira itu dekat. Kukira Ranu Kumbolo hanya perlu melangkahkah kaki beberapa kali lagi. Ternyata, masih sekitar satu kilometer. Saat itulah Nindya mengambil alih perhatianku lagi. Nindya berjalan bersemangat. Kami tiba tepat di atas Ranu Kumbolo. Tanpa ba-bi-bu kami berlari menuju pinggir danaunya. Lupa bahwa kami menuruni turunan terjal berpasir. Rena bahkan sempat terjatuh dan bergulung-gulung di pasir. Tapi dia tertawa. Kami tertawa. Rasa lelah hilang saat bertemu dengan Ranu Kumbolo.
                Dan di Ranu Kumbolo, saat Nindya menyentuh airnya, membasuh tangannya dan menatapku. Aku semakin yakin, aku harus mengungkapkan perasaan ini pada Nindya. Nindya harus tahu bahwa aku mencintainya.
                Lamunanku buyar saat Nindya mencipratkan air ke wajahku kemudian mengajakku membuat tenda. Nindya dengans igap membangun tenda itu. Benar-benar seorang gadis pecinta alam, eh penikmat alam!
                Kami duduk di pinggir danau, kali ini tidak sambil mencelupkan kaki karena sudah terlalu malam dan udara semakin dingin. Kami hanya duduk di atas matras, memandangi rumput keemasan yang semakin lama semakin sulit dilihat.
                Kemudian Nindya menyalakan sebuah lilin dan kami mulai memasak makanan untuk makan malam. Rasa lelah itu hilang. Padahal aku belum beristirahat lama. Hanya baru minum, selonjoran kaki dan menaruh carrier.
                Satu persatu kami masuk ke dalam tenda. Aku masih diam di luar, memandangi lilin dan sesekali mencuri pandang ke arah Nindya. Nindya sekarang sudah berbaring, menatap bintang berselimut sleeping bag.
                “Rian, kamu tau nggak, aku nggak pernah bermimpi senyata ini. Aku nggak mau besok pagi bangun di kasur aku. Aku pengen di sini, di sisi Ranu Kumbolo.” Katanya.
                Aku tidak menjawab. Diam. Memperhatikan bintang yang bergerak-gerak iri memandangi kemesraan antara aku dan Nindya. Meski pun terpisah jarak satu meter dan berada di matras yang berbeda. Bagiku itu kemesraan juga.
                “Selamat malam, Ranu Kumbolo.” Nindya menutup matanya. Lilin mati tak lama kemudian. Menyisakan bayang-bayang wajah Nindya yang tertidur tapi tidak mampu kulihat dengan jelas.
                Aku merebahkan tubuhku di atas matras. Mendengarkan suara angin yang sekali lagi menyentuh pohon-pohon, menimbulkan bunyi gemerisik yang damai. Dan rumput keemasan itu tidak mau kalah, sama-sama saling bergemerisik. Padu menjadi sebuah nyanyian nina bobo.
                Aku tidak pernah sedamai ini dalam hidupku….
                Itu adalah kata-kata yang ingin kutulis di dalam status facebook-ku malam itu.

0 comments:

Post a Comment