Kota yang Dicintai


Bagi sebagian orang, sebuah kota bisa dicintai bahkan hanya karena perasaan yang dirasakan ketika berada di kota itu. Perasaan-perasaan itu abadi tersimpan disana. Setiap orang seolah memiliki loker dan kunci yang khusus dan hanya terbuka ketika ia datang ke kota itu. Tidak seperti loker biasa yang bisa diberikan pada orang lain jika pemiliknya sudah tidak menggunakannya, perasaan yang terasa di kota itu memanggilnya untuk kembali menelusuri perasaan yang pernah dirasakannya. Ada banyak kota yang memiliki sisi magis seperti itu.

Bagiku, Jogja adalah kota itu. Disana, bahkan ketika aku belum menemukan cintaku yang sesungguhnya, ketika hatiku masih berserak dan menganggap diriku adalah bagian dari puzzle yang cacat, aku merasakan perasaan nyaman. Saat itu aku tidak paham apa terjemahan dari perasaan-perasaan itu. Aku sama sekali tidak paham. Aku hanya tahu bahwa aku merindukan seseorang. Sering aku kembali ke kota itu hanya untuk memastikan perasaan itu masih ada. Aku tidak pernah tahu apa maksud perasaan itu sampai kemudian sore itu aku kembali ke Jogja.

Udara Jogja di sore hari selalu membawa aroma yang berbeda ke hidungku, ternyata aroma itu mirip sekali dengan aroma tubuh lelaki yang menggandeng tanganku erat sambil menyusuri jalan Malioboro. Lalu perasaan nyaman yang dulu kurasakan itu ternyata adalah perasaan yang sama ketika lelaki itu mengobrol denganku tentang segala hal. Ini bukan kebetulan, Tuhan dan Jogja bekerja sama untuk membuatku terkagum-kagum dengan jalan takdirku.

Malam hari ketika aku meninggalkan Jogja, aku merasakan ada tubuh kecil yang juga akan mencintai Jogja seperti ibu dan bapaknya. Aku tahu perasaan itu akan segera kurasakan kembali.

Mencintai Fira


Aku menjadi saksi bahwa tidak semua cinta dapat bersatu dalam satu ikatan. Meski disertai ketulusan dan keseriusan sekalipun. Itulah yang kurasakan pada seorang gadis bernama Fira. Aku benar-benar mencintainya, sejak pertama kali bertemu dengannya 20 tahun lalu dan sampai hari ini. Orangtua kami melarang hubungan yang akan ingin kami jalani. Perbedaan usia adalah jembatan penghalang untuk kami bersama.

Aku bahkan tidak pernah meminta untuk jatuh cinta pada Fira, saat pertama kali menatap matanya yang teduh itu aku seperti tersihir. Meskipun sudah kucoba menarik kembali hatiku sekuat tenaga, nyatanya aku tidak mampu. Aku sudah jatuh cinta padanya begitu dalam meskipun hanya sekejap mata bertaut. Lagi pula saat itu Fira memberikan hatinya untukku, mengapa orang-orang terus mengulang kisah sedih Romeo dan Juliet? Mengapa kami tidak bisa bersama?

Aku dan Fira terpaksa berpisah 20 tahun lalu. Orangtua Fira membawa Fira pergi entah kemana. Saat itu perasaanku hancur, itulah pertama kalinya dalam hidup aku merasakan sakitnya cinta. Perasaan sakit itu masih kubawa sampai hari ini, aku tidak bisa melupakan Fira. Namun rasa sakit itu seolah terobati karena aku menemukan Fira-ku. Dan kupikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk Fira dan aku bersama. Kupandangi foto profil sosial media seseorang bernama Fira, dan itu benar Fira. Jantungku berdegup kencang, terbayang olehku pertemuan mengharukan saat aku bertemu dengannya nanti. Ada banyak yang ingin kuungkapkan padanya. Hal-hal yang tak sempat kuucapkan padanya, rasa rinduku, juga cintaku yang selama ini tertahan untuknya.

Aku mengingat malam sebelum aku diusir dari rumahku dan Fira pindah dari rumahnya. Malam itu, Fira mengendap-endap keluar kamarnya untuk menemuiku. Kami berjanji untuk bertemu di dapur rumah Fira. Fira membiarkan kunci depannya tidak terkunci agar aku bisa masuk ke rumahnya. Disana, Fira terlihat sangat cantik dengan piyama pinknya. Lalu aku memegang tangannya yang terasa mungil di tanganku lalu aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Fira menatapku tak berkedip kemudian bibirnya tersenyum sedikit lalu aku mencium bibirnya.

Fira adalah cinta pertama juga gadis pertama dan terakhir yang kucium seumur hidupku. Saat itu aku bisa merasakan tubuh Fira yang hangat melalui bibirnya yang bersentuhan dengan bibirku. Fira tidak menolak, bahkan saat itu aku bisa merasakan bulu mata Fira bergerak-gerak di pipiku. Aku bisa merasakan tangan Fira bergerak-gerak grogi di perutku karena saat itu aku berlutut di hadapan Fira. Aku bisa merasakan jiwa Fira perlahan terhisap ke dalam tubuhku melalui bibirnya.

Momen sakral itu tidak berlangsung lama karena seseorang kemudian menjambak rambutku, aku berusaha melepaskan diri namun tenagaku kalah besar. Aku merasakan kepalaku dipukul oleh telapak tangan yang besar. Fira menjerit meneriaki namaku. Aku mengaduh dan meminta ampun pada orang yang sedang menyeretku ini.

“Anjing kamu!” Teriak orang itu padaku. Aku hanya bisa menyeret diriku bersama jambakan di kepalaku sambil terus mengaduh. Rumah Fira kini terang benderang, aku mulai bisa melihat siapa yang sedang menjambakku. Ayah Fira dengan mata melotot dan merah menahan amarah memegangi rambutku dengan erat.

“Ampun, ampun Om, ampun.” Kataku saat itu. Kulit kepalaku terasa hendak terlepas karena cengkraman ayah Fira yang begitu keras. Ayah Fira meneriakiku anjing, bajingan dan kata-kata kasar lainnya. Suaranya membuat orang-orang di komplek terbangun. Orang-orang berhamburan keluar. Ayah Fira masih menyeretku hingga di depan rumahku.

Ayahku keluar dari rumah masih dengan pakaian tidurnya. Ayahku terkejut. “Anakmu ini anjing!” Kata Ayah Fira lagi. “Ada apa ini?” Tanya Ayahku. Ayah Fira melemparkan tubuhku ke kaki Ayahku. “Saya cinta sama Fira, Pah.” Kataku sambil berdiri. Lalu yang kuingat adalah aku kembali tersungkur ke tanah karena sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Lalu pukulan bertubi-tubi kurasakan di tubuhku. Aku tidak tahu siapa yang memukulku.

Aku paham sekali bagaimana perasaan Ayah Fira dan Ayahku, mencium anak gadis orang di malam hari memang perbuatan memalukan. Seharusnya saat itu aku mendatangi Ayah Fira dan melamar Fira karena perasaanku pada Fira sama persis dengan perasaanku saat ini pada Fira, mencintainya. Itulah kesalahan terbesarku dan aku tidak akan mengulanginya.

Aku menumpahkan seluruh curahan hatiku dalam pesan ke akun sosial media milik Fira. Aku hanya perlu menunggu balasannya saja. Ternyata tidak perlu waktu lama untuk menerima jawaban dari Fira. Sebuah pesan balasan muncul.

"Dasar pedofil!"

Tubuhku kaku di depan layar monitorku. Kubaca baik-baik pesan itu, tidak ada jawaban lain, memang benar hanya dua kata itu. Mataku terasa panas kemudian berair. Dadaku seperti dihunus tombak beracun. Lidahku kelu. Jari jemariku dingin seketika. "Kenapa, Fira?" Tanyaku. Fira tidak menjawab pesanku. Fira kemudian memblokirku. Aku hanya bisa mengingat-ingat mengapa Fira menyebutku pedofil. Apa salahnya mencintai Fira meskipun saat itu Fira berusia 4 tahun? Toh saat ini perasaanku masih sama padanya. Kenapa, kenapa mereka menyebutku pedofil?

Ayahku Si Malaikat Berkantol


Ada 3 orang yang kuanggap bukan lelaki di dunia ini. Mereka adalah kakekku, ayahku dan adik lelakiku. Bagiku mereka bertiga tidak termasuk dalam kategori lelaki. Lelaki dalam bayanganku adalah seorang dengan jenis kelamin pria yang suka menyakiti hati wanita. Kakekku tidak, setidaknya itulah yang kulihat sampai nenekku meninggal. Kakekku tetap setia kepadanya hingga ajal menjemput. Ayahku, meski pun adalah lelaki pemarah tapi mencintai ibuku, itulah yang kulihat dalam kesehariannya. Adikku, meski pun dia masuk kategori lelaki dalam bayanganku, aku tetap akan menganggapnya bukan sebagai lelaki.

Dalam kehidupan percintaanku, aku mengenal banyak lelaki. Lelaki-lelaki itu mengajarkanku banyak hal, kebanyakan dari mereka adalah temanku. Aku melihat dari dekat kehidupan mereka sehingga aku bisa mempelajari mereka. Hampir semua pria yang dekat denganku masuk dalam kategori lelaki. Mereka brengsek, penipu, pembohong dan menganggap wanita hanya sebagai objek saja. Awalnya mengenal mereka seperti mendapatkan musibah, tapi akhirnya aku paham mengapa aku dipertemukan dengan lelaki-lelaki itu, ada suatu pelajaran yang bisa kupetik.

Aku bisa memprediksi apakah lelaki itu dalam tipe setia atau berengsek. Aku bisa tahu apakah lelaki itu benar mencintai seorang perempuan atau tidak. Aku juga bisa tahu apakah lelaki itu tulus atau hanya gombal. Ini bukan sekadar dari penampilan semata, aku benar-benar bisa memprediksinya. Tapi ilmu yang kuperoleh itu tidak berarti banyak untuk kehidupanku sendiri. Karena pada akhirnya, aku tetap saja kecolongan.

Adalah ayahku, yang kukira seorang pria sejati, meski pun temperamental namun berhati baik dan mencintai ibuku. Nyatanya tidak seperti itu. Ayahku adalah seorang manusia berkantol seperti lelaki kebanyakan. Mereka lebih banyak beranggapan bahwa kantolnya itu perlu dipuaskan. Mereka merasa ketampanan dan kedermawanan mereka tidak cukup jika hanya ditampung oleh satu wanita saja. Dan hal itu terjadi.

Tidak butuh lama untukku mengetahui bahwa ayahku mengalami puber kedua. Juga tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa ayahku jatuh cinta lagi. Kemudian waktu seakan berlalu sedetik-sedetik saat aku mengetahui bahwa ayahku berpacaran dengan seorang pelacur, berniat menikahi si pelacur itu bahkan meninggalkan ibuku dan keluarganya.

Aku ingat sekali saat ayahku mengenalkan pelacur itu ke rumahku. Ayahku bilang, "namanya Yanti. Ibu Yanti ini janda sukses yang punya banyak panti pijat. Ibu Yanti ini dulu mantan pelacur tapi sudah bertaubat, sekarang dia ingin belajar menjadi orang yang baik." Tidak perlu tebak-tebakan untuk memahami maksud kata-kata ayahku. Ayahku merasa dirinya adalah malaikat penyelamat yang akan membawa si pelacur dan ibunya yang merupakan germo itu menuju surga. Ayahku yang tempramental merasa memiliki hati malaikat saat kantolnya berbicara.

Aku tahu ayahku berbohong saat bilang pergi dinas keluar kota, yang terjadi sebenarnya adalah ayahku pergi mencumbu pelacur itu. Ilmu mengenali lelaki itu kupergunakan untuk ayahku. Tidak sulit, ayahku menganggap aku adalah anak kecil, tidak paham dunia. Lalu kebohongan-kebohongan lain mengalir seperti air terjun hingga muncul keinginan dalam hati ayahku untuk segera menjadikan pelacur itu istri keduanya.

Ibuku adalah seorang perempuan penyabar dan baik, hatinya bersih dan halus, tidak mencurigai sedikitpun gelagat ayahku. Bagi ibuku, ayahku adalah lelaki baik yang tidak mungkin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh keluarganya. Nyatanya, ayahku sudah sukses menggadaikan semua itu.

Saat itu kesabaranku sudah habis, kuhadapi ayahku yang temperamental itu. Tidak banyak yang bisa kudapatkan, hanya permintaan maaf. Aku tahu ayahku tidak benar-benar minta maaf, dia hanya terkejut bahwa kebohongannya terungkap. Kemudian dia juga berjanji akan berhenti berhubungan dengan pelacur itu. Aku juga tahu itu bohong. Jatuh cinta itu seperti candu, mengelak justru menambah hasrat. Itu pelajaran paling dasar sekali. Setelah kejadian itu, ayahku semakin rapi menyembunyikan kebohongannya. Tapi semakin lincah ayahku berkelit, semakin nyata kemarahanku padanya.

Aku menghadapi ayahku lagi untuk kedua kalinya, menegurnya sekali lagi. Kali ini karena ibuku tahu. Ibuku patah hati, sakit luar biasa. Ini bukan sekedar seorang istri yang dikhianati suaminya, ini mengenai runtuhnya mimpi satu surga antara ibuku dan ayahku. Aku sering melihat perempuan tersakiti hatinya, aku juga pernah merasakan sakit hati. Ada banyak yang mampu sembuh dalam hitungan hari atau bulan, nyatanya untukku dan ibuku tidak pernah sembuh. Kali kedua ini ayahku marah karena lagi-lagi kebohongannya yang sudah disusun begitu rapi terungkap. Si pelacur itu mulai gelisah ketika ayahku terpaksa harus benar-benar berhenti berhubungan darinya. Aku tidak merasa puas ataupun senang melihat si pelacur itu tersiksa, bagiku itu sakitnya si pelacur itu ditinggal ayahku baru dalam taraf sangat dangkal. Lagi pula, apa yang pelacur pahami mengenai kepercayaan dan kesetiaan? Ayahku berusaha kembali ke rumah, tapi aku tahu hatinya ada di tempat lain

Selama apa seorang yang sedang jatuh cinta dapat berpuasa tidak menemui kekasih hatinya? Itulah yang terjadi. Padahal ayahku sudah semakin rapi, aku bahkan agak kesulitan mempelajari gerak-geriknya, tapi tetap saja bangkai akan selalu tercium. Kali ini ayahku lebih dari sekedar marah, dia memukuliku. Aku bukan tidak mampu memukul balik, akal sehatku masih berjalan dan aku tahu dia ayahku. Sayangnya saat itu mungkin dia sudah tidak memikirkan bahwa aku ini adalah anaknya jadi mudah saja untuknya memukuliku. Ayahku mengancam akan melakukan hal yang lebih dari sekedar memukuliku jika aku masih mengintainya.

Apakah aku takut? Tidak. Aku tidak takut. Perasaan takut itu sudah lama hilang. Ayahku yang justru takut kepadaku. Dia begitu takut bahwa aku, anak yang dia kenal sebagai anak, ternyata adalah seorang wanita yang bisa menjadi mesin pencari lebih canggih dari google dan lebih teliti dari polisi. Aku terlatih bersama teman-temanku kemudian dilatih secara intensif oleh ayahku, bagaimana seorang lelaki akan berbohong padaku?

"Kamu tidak boleh terlalu idealis mengenai sebuah hubungan, suatu saat justru kamu akan termakan idealisme-mu sendiri, Sarah." Begitu kata Ayahku ketika aku mulai menerornya dengan cerita-cerita mengenai perselingkuhan. Tahu apa ayahku? Dia hanya lelaki berkantol pada umumnya. Semenjak aku mengetahui rahasianya, apapun yang dia ucapkan padaku hanya berbunyi, "kantol, kantol, kantol."

Jika saja ayahku cukup jantan dengan kantolnya itu, maka seharusnya ayahku menghadap ibuku dan bilang bahwa dia ingin menikah lagi. Saat itu, mungkin saja ibuku akan menangis kecewa atau justru menggorok lehernya, tapi setidaknya dengan kantolnya itu ayahku bisa membuktikan bahwa dia adalah seorang pria baik yang masih ingin berpetualang. Ayahku justru bersembunyi di balik kesan pria baik yang berkomitmen tinggi pada keluarga. Kenyataannya itu semua hanya kantol.

Aku masih menertawakan gombalan-gombalan ayahku yang dikirim ke pelacur itu. Ayahku benar-benar menganggap dirinya seorang malaikat yang hendak membawa si pelacur naik ke surga. Hahaha, ayahku, malaikat? Aku meyakini bahwa cara si pelacur naik ke surga bersama ayahku yang malaikat itu adalah dengan berpegangan pada kantol ayahku. Aku tidak keberatan disebut sebagai anak durhaka, tapi aku meyakini bahwa ayahku harus mendapatkan balasan dari Tuhan dan satu-satunya tempat yang cocok untuknya adalah di neraka. Amin.



Keterangan: Kantol adalah penyebutan penulis untuk alat kelamin pria, pada umumnya disebut kon-tol.

Rumah Makan Ulah Lali: Nyicipin Sate dan Sop Iga yang Super Pasrah

Hari Sabtu kemarin adalah hari dimana saya membayar batalnya puasa saya di bulan Ramadhan. Karena ada sisanya sekitar 3 hari, jadi saya bayar puasa sekaligus hari Kamis, Jumat dan Sabtunya. Nah, kebetulan suami juga kayaknya kangen makan daging-dagingan, jadilah kami memutuskan untuk makan sate kambing. Saya sih gak suka ya sama sate kambing, biasanya saya pesen sate ayamnya aja.

Lumayan bingung juga untuk daerah Kuningan mesti makan sate yang enak dimana. Maklum saya kan dari Bandung, kalo makan sate di Bandung sih ga usah bingung soalnya saya udah paham banget tempat makan dengan sate yang enak dan harganya murah. Tapi kalo di Kuningan? Kebetulan suami juga lama di Bandung dan jarang banget jalan-jalan ke Kuningan, jadilah ketika sama-sama gak taunya, kita memutuskan untuk cari via google. Dari google, kita cari keyword sate kambing Kuningan Jawa Barat, muncullah beberapa rumah makan yang menyediakan sate kambing, diantaranya ada Sate Cibeber dan Sate Jalaksana. Tapi kata Aang untuk Sate Cibeber itu lokasinya lumayan jauh dari Kuningan, jadi pilihan jatuh ke Sate Jalaksana.


Sebutannya sih Sate Jalaksana, tapi nama sebenernya adalah Rumah Makan Ulah Lali. Rumah makan ini menyediakan berbagai jenis makanan olahan dari daging kambing, ayam dan sapi. Lokasinya juga pinggir jalan banget, parkirnya enak tepat di pinggir jalan. Sesampainya disana, mesti nunggu dulu setengah jam karena belum waktunya buka puasa, jadi saya dan suami ngobrol-ngobrol aja sambil ngeliatin dinding rumah makan yang dipenuhi foto-foto "orang penting" yang pernah mengunjungi rumah makan ini. Diantaranya ada Dede Yusuf, Doyok, beberapa pejabat negara lain sampai Anies Baswedan. Tapi Anies sih ga usah ditanya ya, kan dia orang Kuningan.

Sebelum waktu buka, kami pesen 5 tusuk sate kambing, 5 tusuk sate ayam dan 1 porsi sop iga sapi. Ukuran sate yang ditusuknya sih ga kecil ya, mungkin di harganya aja yang menurutku agak mahal, hehehe. Di Bandung harga satu porsi sate udah sama nasi dan satenya beneran enak itu 15 ribuan, ini 5 tusuk aja udah 20 ribuan. Tapi meskipun dibanderol harganya yang mahal, rasanya ga bohong deh. Daging satenya lembut banget, ga susah untuk narik dari tusukan satenya, bagian gajihnya juga lembut ga alot kayak gajih sate pada umumnya. Bumbu satenya enak tapi menurutku kebanyakan kecapnya.


Untuk sop iga sapinya mantap juga, harganya 40 ribuan. Daging iganya lembut banget, ga alot. Kalo di Bandung harga sop iga kan sekitar 30 ribuan tapi dagingnya masih alot, nah yang ini lembut banget super pasrah langsung lepas dari tulangnya dan gampang digigit. Soal rasa sih mungkin ini lebih ke selera ya. Aku sih ngerasa suka aja sama sop iga ini, tapi mungkin untuk yang kurang suka sama merica pasti ngerasa sop iganya lebay banget bumbunya.

Menurut suamiku sih sayang banget gak ada sambel untuk satenya, tapi kalo buatku semuanya udah cukup dan aku suka. Total makan di rumah makan Ulah Lali ini adalah 115 ribu, ini jauh lebih mahal dibandingkan aku makan sate dan sop iga pada umumnya, tapi karena dagingnya lembut banget jadi okelah. Ada harga ada rasa.

Rumah makan ini juga menyediakan toilet bersih dan fasilitas mushola, jadi setelah makan saya dan suami langsung sholat maghrib deh. Perut kenyang, ibadah lanjut. Hehehe.

Nah, segitu aja dulu review rumah makan Ulah Lali alias Sate Jalaksana, next time nanti aku review lagi tempat makan lain yang recommended dan harus enak.

Makan-makan Sebelum Wisuda: Chagiya Korean Suki & BBQ


Bulan Desember 2016 lalu, saya dan teman-teman magister Pendidikan Biologi mengadakan acara makan-makan yang tujuannya adalah merayakan wisuda magister. Saat itu yang datang berenam, minus dua orang yang ternyata berhalangan hadir karena ada satu dua hal. Tempat yang kita sengaja pesan adalah Chingu Cafe. Saat itu saya sebenernya kurang setuju, tapi karena temen-temen yang lain keukeuh pengen ke tempat barunya Chingu Cafe, jadilah saya ngalah.

Pas hari H, kita sengaja dateng pagi-pagi karena katanya kalo dateng agak siang dikit aja langsung penuh. Nah, temen saya si Ela kebetulan udah dateng duluan dan langsung booking tempat. Ternyata kita bukan makan di Chingu, tapi di Chagiya. Chagiya ini adalah restoran korea yang ada barbeque-nya.


Di Chagiya, kita langsung pesen makan aja biar ga usah nunggu lama. Setelah mesen-mesen, si waiter-nya baru bilang kalo orderan kita ga bisa diproses sebelum kita pilih menu Chagiya. Lah, menu Chagiya emangnya apa? Ternyata menu Chagiya ini adalah menu barbeque-nya. Jadi ada paket bakar-bakar irisan tipis daging ayam dan daging sapi, ada paket celup-celup mie ke dalam kuah daging gitu. Karena terpaksa mesti pesen menu Chagiya, akhirnya dipesenlah menu Chagiya yang barbeque untuk 2-3 orang meskipun yang makan jadinya 6 orang. Anggep aja syarat sahnya.


Ketika si menu Chagiya ini datang, eh ternyata dagingnya super tipis, sama sekali ga masuk kategori daging. Bahkan sama kulit ayam yang biasa dijual di supermarket aja masih lebih tebel kulit ayam yang dijual di supermarket. Kalo ga salah kita cuma dapet 10 irisan daging, 5 irisan daging ayam dan 5 irisan daging sapi. Karena kompornya tepat ada di depan saya, jadilah saya adalah koki yang bertugas masakin si daging itu sampe mateng.

Saya kurang suka sama rasa masakan yang ada di Chingu Cafe ataupun Chagiya, menurut saya sih terlalu hambar ya. Saya udah coba beberapa menu makanannya kayak bimbimbap, ramyeon, jjangmyeon, beef bulgogi, tapi semua rasa makannnya itu ga pas di lidah saya, bumbunya kurang kuat. Bahkan ramyeon-nya Chingu sama Ind*mie kuah aja masih kuat bumbunya Ind*mie kuah. Pendapat saya ini mungkin terkesan negatif banget, tapi saya udah ke Chingu sekitar 7 kali jadi hampir semua jenis makanannya udah saya coba.

Satu-satunya yang menurut saya penyelamat Chingu Cafe ini adalah minumannya, yaitu Yujacha atau teh dengan irisan kulit jeruk. Dan setiap kali pergi kesana, saya selalu pesen itu. Setidaknya diantara semua makanannya yang ga enak itu ada penyelamat kan? Nah, pas ngerayain wisuda kemaren saya sempet coba dessert-nya yang baru, es krim matcha green tea gitu dan rasanya lumayanlah dibandingkan dessert yang mirip bibimbap itu rasanya kayak air sirop aja.




Kelebihan dari Chagiya ini adalah desain interior dan eksteriornya yang menurut saya menarik, dibuat mirip kayak di Korea. Menurut saya sih percuma ya, karena saya belum pernah ke Korea. Jadi dikasih suasana artifisial Korea itu ga begitu ngaruh buat saya.

Menuju siang, Chagiya ini mulai gak nyaman banget. Orang-orang yang ada di waiting list melototin kita yang masih makan seolah nyuruh buru-buru. Parah banget. Kemudian mulai kerasa juga udara Bandung yang panas dan gak nyaman lama-lama di luar ruangan. Tapi Chagiya ini jadi tempat asyik kalo mau foto-foto.

Alhamdulillah temen-temen saya sih seneng banget bisa ngumpul dan makan-makan disini karena ceritanya itu kita sedang terakhir-terakhiran. Karena kalo udah lulus kan pasti susah kalo mau ketemuan. Ah, jadi kangen momen ini.

Saya sampe sekarang sih belum kangen ya sama Chagiya, tapi kangen sama salah satu restoran korea di Bandung yang menurut saya rasanya itu cocok banget di lidah saya. Nanti saya review deh. Tunggu aja ya.





Jatuh Cinta di Biologi

Seumur hidup aku, aku cuma tau kalo cowok bakal ngasiin jaketnya ke cewek itu di cerita-cerita sama di film-film. Aku sendiri belom pernah ngerasain kebaikan cowok yang satu itu. :)

Tapi kemarin, aku ngerasain juga. Ceritanya aku mau naik gunung bareng sama cowok itu. Tapi aku lupa ga bawa jaket. Aku sempet mau ngebatalin buat naik gunung, tapi dia bilang kalo aku pake jaketnya dia aja. Dan dia ngasiin jaket yang lagi dia pake ke aku.

"Nih, pake. Sekalian sama ini juga (rompi). Sini kemeja kamu dilepas aja." Kata dia. Dan aku nurut. Kemeja tipisnya aku buka, aku pake jaket dia terus didobel sama rompi dia.

"Udah berapa lama ga dicuci, ***?" Tanyaku.

"Kenapa? Kecium gitu baunya?" Tanyanya sambil membantu memasang resleting jaketnya. "Ini agak macet." Katanya lagi. "Nah udah." Lalu dia memegang bahuku. Ujung bahu tepatnya. Engga sampe satu detik. Tapi dia adalah orang pertama . :))))

"Agak bau." Sahutku. Aku tentu ga mau keliatan kayak orang yang terpesona, :p akhirnya kita berangkat.

Sekitar 3 jam nanjak, aku cape. Terus kita duduk. Pas duduk, dia pilih tempat duduk di sebelah aku. Kaki aku kebetulan lagi dilipet terus aku peluk di dada. Dia naro siku lengannya di atas lututku sambil ngobrol sama temen-temennya.

Aku bisa dibilang sering naik gunung, tapi baru sekali ini ngerasain jatuh cinta, bukan sama gunung, pemandangan, embun atau dinginnya, aku jatuh cinta sama cowok itu. :)

Aku baru tau kenapa orang-orang begitu ribut mencari tambatan hati, ya, hormon oksitosinku diproduksi saat aku bersamanya. Bikin ketagihan untuk naik gunung sama dia, bikin ketagihan, bahkan enggan ngelepasin jaket yang dikasih pinjem sama dia. :p

Bahkan jatuh cinta sama cowok itu pun bisa aku jelasin sama bahasa biologi.

"Nanti kita naik gunung bareng lagi ya..." katanya. Dan aku mengangguk semangat. Aku jatuh cinta sama kamu euy, kamu mengalihkan rasa takjubku sama gunung. :p



28 Desember 2012

Kembali Lagi

Ketika aku menyadari bahwa aku sedang dalam perjalanan "kembali", aku selalu berusaha berkenalan dengan sosok diriku yang baru. Lalu aku akan bilang pada diriku yang baru itu, "kamu mau lari kemana, Lukita? Disinilah tempatmu kembali." Aku sudah sadar sejak awal kalau aku akan selalu kembali pada hal-hal yang kucintai. Mereka itu adalah yang menjadikan diriku adalah aku. Entah aku sudah ganti casing berapa kali, entah aku sudah berapa kali mengubah penyebutan namaku, aku akan selalu nyaman menyebut diriku sendiri sebagai saya.

Aku mencoba melarikan diri sejauh mungkin dari kenyataan pahit kehidupan beberapa tahun ke belakang. Aku mencoba membuat bingkai kehidupan baru yang intinya adalah caraku untuk menghapus kesalahan yang pernah kuperbuat. Aku juga mencoba memaafkan diriku sendiri melalui memaafkan orang-orang di sekelilingku. Memang butuh waktu yang tidak sebentar. Waktunya lama. Tapi bukan berarti tidak bisa. Pada akhirnya aku sadar bahwa, "tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan, selama tidak pernah mengeluh dan berbicara kasar." Dan aku melakukan kesalahan saat itu, tapi aku tidak mengeluh. Mengeluh tidak tapi aku mulai berbicara kasar. Mengutuk adalah yang kulakukan setelahnya. Apalagi setelah aku tahu bahwa lalat-lalat itu mengerubungi bangkai kesalahanku. Aku membenci kesalahanku, juga lalat-lalat itu. Padahal, aku sekarang ini berkata pada diriku sendiri, "apa yang kamu harapkan dari lalat?"

Aang benar soal satu hal, masa lalu tidak dapat diubah. Aku sering mendengar kata-kata itu, dan dulu ketika Aang bilang itu, aku justru berpikir bahwa Aang ingin menyimpan masa lalu dan menyuruhku menyimpan masa laluku. Aku benci pada masa laluku. Kenapa aku harus tetap memasukkan masa laluku ke dalam masa depanku? Kenapa aku tidak boleh menghapus bersih seluruh masa laluku? Aku meledak, benar-benar meledak setiap kali Aang membicarakan masa lalu. Aku membenci masa lalu. Aku ketakutan bahwa aku tidak sebaik yang kupikirkan, aku takut bahwa aku mungkin lebih buruk dari yang kupikirkan.

Dan aku jauh lebih membenci masa lalu Aang. Ketakutanku muncul karena aku berpikir mungkin Aang akan lebih menikmati masa lalunya dibandingkan masa depannya bersamaku. Atau mungkin Aang juga akan menjadikanku salah satu masa lalunya. Tapi sebenarnya ketakutan itu tidak hanya kurasakan sendiri, Aangpun berpikir sama. Dalam ketakutan-ketakutan itu, aku berpura-pura kuat dengan pilihan ingin berjalan di jalan sendirian. Tapi itu hanya bagian kecil dari diriku yang bisa menerimanya, sebagian besar tidak. Mau tidak mau, Aang sudah menjadi bagian dariku.

Aang sungguh benar, masa lalu memang tidak akan pernah dapat diubah.

Aku tidak pernah jadi perempuan kuat, setidaknya aku adalah orang yang paling memahami diriku sendiri dan aku merasakan itu. Aku tidak mampu tapi demi harga diri aku akan berusaha semaksimal mungkin. Dulu aku begitu malu untuk menangis, menunjukkan bahwa kau telah menyakitiku sehebat itu, menunjukkan bahwa aku takut kehilanganmu, menunjukkan bahwa aku mencintaimu sebesar itu. Ini, tangisanku ini agar kau paham saja meskipun hanya sedikit. Bahwa dalam waktu satu detik, jika itu hanya aku yang merasakan, kau pernah berada di dalam hatiku.

Kemarin, gurauan yang sama masih datang kepadaku. Saat itu A Restu bilang, "selamat hari pernikahan, aang cintanya." That's hurt a lot. Kau tidak akan pernah tahu monster apa yang sudah kuhadapi demi sampai di titik ini. Monster itu tidak akan pernah bisa lagi, karena aku akan dengan tegas berkata, "kamu mau apa lagi?" Lalu kujawab pada A Restu, "Aang hanya cinta Lukita, tidak ada cintanya cintanya." Itu bukan aku membenci A Restu, atau orang-orang yang menyebutkan lagi masa laluku dan Aang, bukan. Itu hanya karena kita terlanjur masuk dalam permainan ini dan seseorang yang sudah beranjak dewasa harus mengajarkan bahwa hal kekanak-kanakan seperti itu sudah lama berakhir.

Seseorang terluka, melarikan diri karena takut terluka lagi. Sekarang orang itu kembali lagi, menawarkan maaf yang lapang. Kau tidak tahu lautan seluas apa yang telah dijelajahi orang itu. Dan aku berbisik seperti membisikan bibir pantai saat aku berlabuh, "aku kembali lagi...."

Enough



Oh my child in your heart

What are you worrried about

You are here flying high
What else would you want in life



You will fly but you cry

You will fall back from the sky

You will beg on your knees, begging glory to retrieve

Will you loose your believe
When there's no one to relieve



Don’t try too hard

Don’t be someone you are not

You don’t have to always be right

Just keep dreaming and I’ll guide you through the light

Through the night, through the dark, through the worst part of your heart,

Through your fear, I’ll be near, give you all glory you need

 
Which is none, no glory

But somehow it’s enough 



Aku selalu berusaha memberi kesempatan untuk seseorang bicara. Membiarkan mereka puas bicara, berkreasi, bernyanyi, meski itu semua kadang menggangguku. Aku dinilai begitu mencintai kehidupan sosialku. Aku begitu menghargai pendapat orang dan tidak pernah mau menyikut orang lain.

Tapi apa yang kulakukan kepada orang lain hanyalah apa yang kuharapkan untuk kudapatkan dari orang lain. Mereka yang tidak pernah membiarkanku bicara hingga selesai. Mereka yang tidak membiarkanku berkreasi sesuai keinginanku. Mereka yang memusuhiku hanya karena laguku tidak indah. Dan mereka akan langsung menyebutku pengganggu.

Aku hanya ingin diberi kesempatan. Entah itu satu buah, dua buah, tiga buah hingga ratusan buah kesempatan.

Kubilang pada mereka, "jadilah apa yang kamu inginkan, kejar apa yang jadi mimpimu, meski nanti kamu kecewa, setidaknya kamu kecewa bukan karena tidak mengejar impianmu!"
Yang mereka bilang padaku adalah, "mau jadi apa setelah kamu mengejar mimpimu? Apa mimpimu itu bisa menjamin makan, minum dan tempat tinggal untuk anak-anakmu nanti?"

"Kejarlah! Kamu masih muda. Semua yang muda harus menuntaskan idealisme dalam dirinya." Seruku. Kemudian mereka bilang, "justru selagi muda mesti ngerti tidak semua idealisme harus diwujudkan!"
Aku tidak tahu mana yang benar. Aku hanya sekedar ingin diberi dukungan, toh memangnya, apa yang salah mempercayai mimpi kemudian berusaha mewujudkannya?

Tadi sore baru nonton Demi Ucok, kemudian denger Sunny Soon nyanyiin lagu ini. Kemudian aku berpikir, memang apa salahnya punya mimpi dan berusaha mewujudkan? Setiap orang ingin diberi kesempatan kan? :))

 

#MengajarIndonesia Middle of Nowhere

Katanya, pendidikan di Indonesia itu sudah sangat bagus. Mencetak insinyur-insinyur canggih yang mampu bikin kereta bawah tanah, bawah laut juga. Katanya lagi, guru-guru di Indonesia itu bersertifikasi, dipanggilnya aja Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Katanya sih.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para guru yang memang "bersertifikasi". Ini saya, guru yang tidak "tersertifikasi". :)

Saya diminta mengajar salah satu sekolah di daerah pinggir kota. Jaringan internet di daerah itu sudah 3G. Di radius 2 km ada beberapa warung internet yang jadi tongkrongan siswa sepulang sekolah. Sudah tidak ditemukan lagi siswa yang jalan kaki ke rumahnya yang berjarak 500 meter. Berapa pun jaraknya, siswa pasti naik motor. Termasuk di sekolah tempat saya dimintai mengajar itu.

Saya lulusan Pendidikan Biologi. Tersasar hingga punya passion di dunia film, menjadi sutradara hingga akhirnya ditawari jadi guru SBK (Seni Budaya dan Kesenian).

Tidak sulit untuk seorang dengan background "pendidikan" untuk dimintai mengajar. Meski awalnya nggak yakin, akhirnya sudah beberapa bulan ini saya ngajar lancar juga.

Tidak ada kendala berarti yang saya temui selama beberapa bulan ini. Sekolah tempat saya mengajar hanya punya sekitar 150an murid, terdiri dari MTs dan SMK. Di MTs saya menemukan satu kelas yang hanya diisi 12 siswa.

Anak-anak bandel, suka ribut dan tidak mau mengerjakan tugas adalah pemandangan biasa bagi saya karena sebelumnya saya pernah juga mengajar di beberapa sekolah lain. Dari sekolah elit, sampai sekolah bertaraf internasional.

Setiap hari, saya berjalan kaki menuju sekolah yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari tempat saya turun dari angkot. Tidak ada siswa yang "mau" jalan kaki. Saya adalah guru sekaligus orang satu-satunya yang "mau" jalan kaki 500 meter menuju sekolah. Enggan naik ojeg, meski pun bayarnya hanya tiga ribu rupiah sekali jalan.

Alasan saya simpel, saya jarang olahraga, beberapa bulan kemarin saya syuting film bersama Museum Konperensi Asia Afrika, di saat syuting itu, saya hampir pingsan saat sedang mengoperasikan kamera. Ternyata tekanan darah saya rendah lagi. Jadi saya bertekad untuk mengolahragakan diri dengan berjalan 500 meter menuju sekolah itu.

Sering saya diledek tukang ojeg dengan ocehan mereka yang bilang bahwa saya orang miskin dan tidak punya uang untuk naik ojeg. Mungkin mereka kesal karena saya enggan memberikan tiga ribu rupiah saya untuk mereka. Hehehe.

Dari sekian banyak tantangan yang saya temui, masalah sebenarnya muncul beberapa minggu lalu. Saat itu, saya sedang mengajar materi mengaransemen lagu untuk siswa kelas 8 MTs.

Pertama-tama saya mengajari tentang notasi nada. Saya ajari akor C, D, E, F dan seterusnya. Mereka mengangguk paham. Kemudian saya ajari Do, Re, Mi, Fa dan seterusnya, mereka mengangguk paham lagi. Kebiasaan saya, setiap kali selesai mengajarkan sesuatu, saya menyuruh siswa untuk mengerjakan tugas yang langsung saya periksa hari itu juga.

Tujuannya agar saya tahu sejauh apa siswa memahami materi yang saya ajarkan. Tugasnya tidak sulit, hanya membuat harmoni dua suara dari sekitar 7 akor yang saya buat acak. Saya pikir, lima menit pun selesai. Toh sudah diajari sebelumnya dengan susunan teratur, sekarang saya acak, tinggal diganti saja.

Tak disangka tak dinyana. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyetorkan tugas. Tidak satu pun dari mereka yang mengerjakan juga. Ketika saya ajari bolak-balik, mereka bilang paham. Lalu apa yang salah?
Seorang siswa kemudian bertanya perihal akor C, D, E yang saya ajarkan. Dia bertanya itu akor apa? Fungsinya apa dan digunakan dalam musik apa? Kemudian apa itu Do, Re, Mi, Fa? Dipakai untuk apa Do, Re, Mi, Fa itu?

Tidak berusaha lebay, hati saya menangis saat itu juga. Saya seperti sedang mengajari anak-anak untuk makan menggunakan sendok, tapi anak-anak itu tidak mengerti alat yang digunakan untuk makan itu adalah sendok dan tidak mengerti juga sendok itu untuk apa.

Saya mengorek informasi tentang sekolah itu. Guru yang mengajar SBK sebelum saya katanya tidak pernah masuk untuk mengajar. Anak-anak hanya diberi tugas untuk menulis ulang apa yang ada di buku. Tidak pernah ada praktek, guru tidak pernah menjelaskan, tidak pernah ada pemahaman yang masuk ke kepala mereka.

Sedih sekali.Ketika saya coba tanyai anak-anak satu persatu, ternyata tidak satu pun anak di sekolah itu mengerti soal akor. Mereka bahkan tidak bisa membaca Do, Re, Mi, Fa dalam notasi angka.

Saya sempat takut untuk mengajar SBK karena saya adalah lulusan Biologi, bukan SBK. Tapi ketika saya membaca silabus dari mata pelajaran SBK, saya optimis saya bisa mengajar. Toh saya hanya perlu melanjutkan mengajari apa yang guru sebelumnya pernah mengajar. Ternyata tugas saya tidak semudah itu.
Siswa-siswi di sekolah itu menyambut dengan bahagia kehadiran saya di sekolah mereka. Mereka bilang bahwa saya adalah satu-satunya guru yang mau susah payah mengajari mereka berulang-ulang hingga mengerti. Ya, saya pun kepayahan sendiri.

Awalnya, saya menganggap mengajar di sekolah itu sebagai kegiatan selingan. Tapi sekarang semuanya berubah. Ada siswa-siswi yang perlu saya beri pemahaman, meski pun hanya tentang seni dan budaya. Tapi menurut saya justru penting untuk seseorang mengetahui seni dan budaya. Kasus Malaysia yang mengambil lagu milik Indonesia adalah contoh dari ketidakpahaman seseorang tentang seni dan budaya.

Tentu kalau semua orang Indonesia mengerti tentang seni dan budaya negaranya, kejadian pencatutan lagu itu tidak akan pernah ada. Mengerikan ya. Saya miris.

Saya bersemangat untuk mengajarkan lebih banyak hal lagi pada siswa-siswi di sekolah itu. Meski pun mereka tidak henti-hentinya bilang, "....namanya juga sekolah di kampung, enggak tahu mah wajar." Tapi seharusnya orang bodoh itu jangan sombong. Orang bodoh itu mestinya malu dan berusaha untuk tidak bodoh.

Saya, meski pun hanya menumpang lahir di "kampung" ini, tetap mau belajar banyak hal. Terbayang di pikiran saya kalau ternyata kejadian yang saya alami ini tidak hanya di mata pelajaran yang saya ajarkan saja. Tapi di seluruh mata pelajaran, anak-anak ini tidak mengerti dengan materi yang mereka dapatkan.
Mereka seperti diajak pergi naik mobil dari Cileunyi ke Jakarta naik tol setiap hari, selama bertahun-tahun, dan tidak satu pun dari mereka yang sadar kenapa mereka harus ke Jakarta dan kembali lagi ke Cileunyi dan mengulangi itu terus menerus. Meski pun ada yang sadar bahwa mereka melewati jalan yang sama, mereka hanya bilang "oh" dan perjalanan berlanjut lagi.

Ya, saya muda, terlalu banyak idealisme yang belum mati, terlalu kritis hingga dibenci orang. Tapi, jangan-jangan saya pun sedang menaiki mobil dari Cileunyi menuju Jakarta dan tidak menyadari bahwa saya berada di dalam mobil yang sama bersama siswa-siswi saya?

Her; mencintaimu, -nya, dia dan mereka

Saya tahu film HER ini dari situs bioskop di Indonesia. Dari sinopsis yang saya baca, saya tertarik pada alur cerita hingga akhir cerita ini. Menurut saya juga, ide ceritanya sangat menarik. Meski pun masih dengan genre cinta dan drama, Spike Jonze membawa film ini menjadi film yang luar biasa sekali. Dan saya menyukainya.

Meski saya seorang film maker dan tabu bagi seorang film maker untuk mengomentari film orang lain, tapi saya tidak akan berkomentar. Saya hanya akan bicara tentang mengapa saya menyukai film ini.

Her dimulai ketika Theodore dalam kehidupannya yang hampa ketika dia bercerai dengan istrinya. Kemudian Theodore dikenalkan dengan sebuah sistem operasi canggih bernama Samantha. Samantha, karena kecerdasan dan teknologinya yang canggih mampu membuat Theodore yang kesepian menjadi hidup kembali.

Theodore kembali merasakan jatuh cinta. Meski pun Samantha adalah sebuah sistem operasi. Samantha mampu membuat Theodore move on dari patah hatinya pada mantan istrinya dan membuat Theodore berani menandatangani surat perceraian resmi mereka.

Di tengah percintaan mereka yang panas membara, muncul intrik-intrik yang memang ciri khas dari film bergenre cinta dan drama. Naik turun, kembali romantis kemudian naik turun lagi, betul-betul ciri khas cinta.
Dan saya suka dengan intrik-intrik tersebut. Hehehe.

Pendapat akhir saya adalah, film ini menjadi sebuah film cinta recommended! Hehehe. Her memberikan gambaran baru tentang cinta. Dan saya pun kemudian menyadari, tiga perempat waktu berpacaran saya dihabiskan dengan bertelepon dan mengirimi pesan singkat.

Saya kadang khawatir, takut yang saya rindukan bukanlah kekasih saya, melainkan suara yang muncul di speaker handphone saya atau kata-kata yang bermunculan di pesan. Apakah kekasih saya tidak lebih dari sekedar sistem operasi?

Dari kejauhan, kepala saya ditimpuk biar segera sadar. Hehehe.