Mencari Damai bagian 13

—-
                Aku sampai di Kalimati. Nindya tertidur di dalam tenda, berselimutkan sleeping bag. Bibirnya tidak biru. Tapi masih pucat. Aku duduk di sampingnya. Perlahan menyentuh keningnya yang dingin. Nindya terbangun.
                “Rian, kamu enggak apa-apa, Rian?” Tanya Nindya padaku. Tangan Nindya keluar dari sleeping bag dan meremas tanganku yang beku, tapi tidak sebeku hatiku.
                “Dingin.” Jawabku.
                “Sini, pake sleeping bag aku.” Nindya membuka sleeping bagnya. Dia duduk. Menyelimutkan sleeping bag hangat bekas tubuhnya. Kemudian Nindya sambil menggosok punggungku dengan telapak tangannya. “Mata kamu penuh debu. Dibersiin dulu.” Aku menggeleng. “Minum?”
                Citra menatapku dari luar tenda. Aku tidak bernafsu untuk membalas tatapan sinisnya. Nindya masih sama seperti sebelum aku membuka suratnya. Tersenyum, kali ini benar-benar bermaksud untuk ramah. Bukan untuk membuatku geer karena merasa menggenapkan perasaannya.
                “Mau aku bikinin cokelat panas?” Tanya Nindya. Aku diam. Memperhatikan seksama maksud kebaikan Nindya padaku. “Tau engga, Dani bilang kalo hot chocolate itu bukan cokelat panas, tapi cokelat seksi. Terus kalo cokelatnya udah dingin kan jadi cool, itu bukan cokelat dingin. Dia bilang…”
                “Cokelat keren.” Selaku. “Kamu udah bilang itu berkali-kali. Bahkan sebelum kita ke Semeru.”
                “Kamu inget ya?” Nindya tersenyum lebar. Entah mengapa aku terus merasa senyumnya sama seperti sebelum aku membuka suratnya. Masih. Masih membuatku geer. Tapi. Ini keramahan. Ini hanya keramahan.
                Setelah matahari cukup tinggi, kami kembali ke Ranu Kumbolo. Kali ini aku melewati padang lavender. Padang ini terasa indah ketika aku pertama melihatnya. Ya, diisi rasa geerku. Sekarang…. Aku memasukkan tanganku ke dalam saku jaketku, meremas erat surat cinta Nindya.
                “Kenapa Rian?” Tanya Nindya. Sadar bahwa saat dia membalikan tubuhnya, aku berada cukup jauh dari rombongan. Nindya membiarkan rombongan kami jalan duluan. Aku berjalan lambat agar Nindya bisa lebih dulu berjalan. Tapi dia tidak berjalan. Menungguku.
                “Duluan aja.”
                “Nggak. Kita bareng aja.” Jawab Nindya. “Ayo!” Nindya mengulurkan tangannya, menarik lenganku yang masuk ke dalam saku jaketku. Surat Nindya yang ringsek itu melompat keluar dan terjatuh di antara kami. Angin membawa surat itu beberapa senti. Aku buru-buru mengambil surat itu.
                “Maaf Nind.” Kataku. Aku tidak mengembalikan surat itu. Hanya memegangnya.
                “Aku ngelukisnya susah loh, Rian. Jadi ringsek gitu.” Kata Nindya sambil sedikit tertawa. Tawa pahit. Ganjil. Dan ganjil adalah kata yang sebenarnya aku cari. Kubilang senyum Nindya menggenapkan? Tidak, senyumnya selalu ganjil. Karena dia sudah genap dengan sendirinya. Keberadaanku mengganjilkan.
                “Aku….”
                “Aku tau. Citra udah ngomong sejak dia balik lagi ke Kelik.” Nindya kali ini memotong ucapanku. “….dia lebih terobsesi untuk sampai di puncak. Aku nggak sadar. Aku meracuni pikiran mereka. Padahal, persis kata Siska, Mahameru tidak ada dalam resolusi hidup mereka bahkan dua puluh tahun ke depan. Tapi, apa hidup harus selalu selaras dengan resolusi? Gimana kalo taun depan dia nggak bisa punya resolusi lagi? Bukankah perjalanan yang seakan memaksakan ini seharusnya jadi kesempatan emas.” Nindya berhenti. Air mata menggenang di matanya. “Rian?”
                “Aku nggak tau Nind.”
                “Mungkin Cuma aku yang seneng dengan perjalanan ini. Yang lainnya merasa musibah. Cuma aku juga yang bisa liat kemegahan ciptaan Tuhan ini. Yang lainnya Cuma berharap satu hal, balik ke Bandung dengan selamat. Padahal Rian, jantungku mendesir, aku bisa ngedenger desirannya di leherku dengan keras ketika ngeliat….” Nindya berhenti bicara.
                Ya, jantung berdesir, itu adalah ungkapan yang harusnya kuucapkan selain indah saat melihat potongan-potongan keajaiban yang berbentuk puzzle dan lengkap di puncak Mahameru sana. Jantungku berdesir juga saat ini, Nind. Kamu tidak tahu atau tidak mau tahu.
                “Aku nggak ngerti sama apa yang mereka omongin. Tapi aku sama kayak mereka, berharap cepet balik lagi ke Bandung.”
                “Kamu ini nggak ngeliat keindahan yang ada disini atau nggak mau liat? Kamu punya hati buat apa?!” Nindya mulai bicara dengan nada setingkat lebih tinggi.
                “STOP! Kamu sendiri punya hati untuk apa? Untuk sekedar ngerasain keajaiban Tuhan di gunung-gunung yang kamu daki? Kamu nggak bisa liat keajaiban Tuhan yang udah ada di depan kamu selama ini, empat tahun ini?”
                “Aku lagi ngomongin perjalanan ini, RIAN!”
                “Ya, sama. Aku kesini buat apa Nind? BUAT KAMU.” Aku berteriak. Aku benar-benar berteriak pada seorang wanita. Aku belum pernah berteriak seperti ini sebelumnya. “Tolong Nind, sekali aja dalam hidup kamu, kamu ngeliat apa yang ada di depan mata kamu. Bukan bukit di atas sana. Bukan pohon itu. Bahkan bukan bangkai pohon lavender kering ini!” Aku memukul pohon lavender kering di hadapanku. “Liat yang ada di depan mata kamu, Nind! Kamu masih nggak bisa liat? AKU! AKU NIND!”
                Mata Nindya memincing, memperhatikan kedua mataku yang mungkin sedang terbelalak liar menatap balik ke dalam matanya. Bibir Nindya terbuka, aku yakin dia akan menanyakan, “apa maksud kamu?”
                “Aku tau Nind. Citra dari awal udah nggak suka dengan perjalanan ini. Tas carriernya berat. Dia nggak biasa! Di kereta dia kepanasan, dia belom pernah tersiksa kayak gitu seumur hidupnya. Rena nggak tahan tidur dalam posisi duduk terantuk-antuk. Makanan yang Cuma mie dan nasi nggak ada rasanya, itu yang dipikirin sama Siska.
“Belum lagi jalan jauh dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo, setiap kali mereka tanya masih jauh apa engga, kamu selalu jawab nggak tau. Mereka tersiksa Nind. Kamu mau tau itu atau engga? Dan memang Cuma kamu yang suka cita ada dalam penderitaan ini.
                “Aku! Aku nunggu untuk ngungkapin perasaan yang seharusnya aku ungkapin empat tahun lalu waktu aku ketemu kamu di depan aula kampus. Di puncak sana Nind. Tapi kamu? Kumpulan kata I love you kamu itu menyadarkan aku semuanya. Aku sama butanya kayak kamu Nind. Mata aku kebuka sempurna di atas sana. Aku ngeliat dunia! Demi Tuhan, Nind. Aku melihat dunia.
                “Sekarang lebih nyata Nind. Kamu yang berdiri di depan aku. Engga bermaksud untuk menunggu pelukan aku. Wajah kamu, enggak pernah bermaksud memancing mata aku untuk memperhatikan kamu di balik kaca mata item aku. Senyum kamu Nind, yang selalu bikin aku geer itu….”
                “Aku ngerti Rian.” Nindya memotong. “Kita memang perlu ngomongin ini dari awal kita berkonflik. Aku salah ketika milih ganti nomer, ngehapus pertemanan kita di facebook terus nggak berhubungan lagi sama kamu. Itu semua nggak nyelesaiin masalah.”
                “Memang itu aku yang aku pengen.”
                “Di depan aula kampus.” Nindya memulai ingatan kami.
                Di film 5 sentimeter, Genta dan Riani menyelesaikan perasaan mereka di hadapan Ranu Kumbolo, disaksikan dinginnya air danau bersejarah itu dan ribuan bintang di langit. Aku, di tengah padang lavender Oro-Oro Ombo. Saling berteriak dengan seorang wanita yang kucintai dan mematahkan perasaanku. Aku hanya mampu berharap dialah yang akan menyembuhkan segalanya.

0 comments:

Post a Comment