Mencari Damai bagian 7

—-
                Seseorang duduk memperhatikan sesuatu. Mataku yang masih ingin menutup kupaksakan untuk terbuka. Nindya duduk, menatapku sambil tersenyum. Aku terkejut, segera kurapikan wajahku dengan menyapu wajahku dengan syal yang melingkar di leherku.
                “Ini waktu yang tepat, Rian.” Kata Nindya. DEG. Jantungku hendak berhenti. Aku bangkit, duduk menghadap Nindya. Cahaya kuning muncul menyinari wajah Nindya dengan lembut. Nindya masih menatapku. Matanya sekarang menghadap ke sumber cahaya kuning itu. “Selamat pagi, Ranu Kumbolo.”
                Kemudian keajaiban itu muncul. Cahaya kuning yang lembut itu kemudian menyinari mata Nindya yang berwarna kecokelatan. Aku selalu suka matanya yang berwarna cokelat itu. Senyumnya merekah. Nindya menunjuk danau di hadapannya.
                Di atas permukaan air Ranu Kumbolo, kabut bergerak dari dua bukit di timur, lumer menjadi fla agar-agar putih yang menyelimuti seluruh permukaan danau, kemudian berjalan mendekati aku dan Nindya. Mulutku menganga tak kusengaja. Rasa dingin menusuk jari jemari tangan kananku yang kukeluarkan. Tapi cahaya kuning itu, hangat. Akhirnya menerpa wajah dan tubuhku.
                “Ajaib!” Bisikku. Setelah itu, matahari merangsek naik persis seperti film teletubbies. Semuanya hangat. Terang dan orang-orang mulai keluar dari tenda. Aku kembali menatap wajah Nindya. “Tadi, waktu yang tepat untuk apa, Nind?”
                “Waktu yang tepat untuk ngeliat sesuatu yang kayak tadi.” Kata Nindya. Teman-temannya bangun. Nindya kemudian keluar dari sleeping bag dan melipatnya.
                Nindya seperti sedang menjalankan ritual, dia mengucapkan selamat pagi pada Ranu Pane. Kemudian selamat malam dan selamat pagi pada Ranu Kumbolo. Kedua tempat itu seperti manusia yang perlu ‘disapa’ dan akan ‘menyapa’ balik.
                Setelah sarapan pagi, kami melipat tenda dan meneruskan perjalanan. Dan di hadapan kami, ada tanjakan cinta. Tanjakan yang menurut mitosnya jika memikirkan seseorang yang dicintai, maka orang itu akan menjadi jodohnya. Aku tidak terlalu percaya mitos. Dan aku tetap berjalan di belakang.
                Di tengah tanjakan, Nindya membalikkan tubuhnya, kembali menghitung dan aku kembali menggenapkan hatinya. Dia tersenyum puas sambil menatapku. Aku memperhatikannya dibalik kaca mata hitamku. Tidak membalas senyumnya, berpura-pura aku sedang memperhatikan hal yang lain dibalik kaca mata hitam ini.
                Nindya bersorak karena dia gagal dalam tantangan mitos itu. Kemudian Nindya mengingatkan teman-temannya yang lain agar jangan melihat ke belakang. Tapi justru teman-temannya melihat ke belakang. Tinggal aku yang belum. Semoga tidak.
                Di puncak tanjakan cinta. Aku baru tersadar, saking konsentrasinya untuk tidak menengok ke belakang, aku justru lupa untuk memikirkan Nindya. Teman-teman Nindya menggerutu karena tidak mampu menahan diri untuk tidak menengok ke belakang. Dan mereka berjanji untuk naik ke tanjakan cinta lagi saat pulang nanti.
                Aku juga akan naik sekali lagi. Dan nanti, aku akan berangkat pagi-pagi agar tidak ada yang bisa membuyarkan konsentrasiku. Ya.
                Aku membuka kaca mata hitamku. Di depanku terhampar bunga lavender menyesaki sebuah lembah. Bunganya sedang tidak berkembang, tapi aku masih bisa mengetahui bahwa itu adalah bunga lavender. Padang lavender Oro-Oro Ombo.
                Kali ini mengenali tempatnya. Aku sudah mendengar bahwa di Semeru ada tempat dengan padang lavender. Tapi aku tidak tahu bahwa tempatnya di sini, bersembunyi di balik tanjakan cinta. “Perkenalkan, Oro-Oro Ombo.” Kataku menirukan Nindya. Mereka semua tertawa. Kami tidak melewati padang itu. Kami melewati pinggiran bukit dan menghindari padang lavender itu.
                Bunga itu setinggi tubuhku. Bagiku tidak lucu tersesat di dalam padang lavender. Ya kan? Tapi aku akan berjalan di dalam padang itu pulangnya.
                Cemoro Kandang, adalah tempat peristirahatan kami selanjutnya. Kami duduk di atas sebuah batang pohon kering yang melintang. Setiap kali aku menanyakan arah, Nindya selalu menggeleng. Tidak ada yang tahu pasti kemana kami harus pergi. Kami hanya mengikuti jejak sepatu orang lain. Dan aku tahu itu setelah Nindya yang bilang.
                Aku kelelahan berjalan di Cemoro Kandang ini. Carrier terasa semakin berat menyiksa bertengger di punggungku. Belum lagi tanganku yang memegangi tenda. Kakiku melangkah sedikit sedikit karena langkah kaki teman-teman Nindya yang sama-sama kelelahan hanya melangkah dua puluh sentian. Aku kesal. Tapi aku diam. Memakai kacamata hitam membuatku terlihat bahwa aku baik-baik saja, setidaknya begitulah menurutku.
                Sudah tidak ada tawa. Tawa menjadi barang yang mahal. Bukan hanya karena kami kelelahan, tapi kami kehabisan pembicaraan juga. Aku tidak berani memulai pembicaraan karena aku tidak mengenal teman-teman Nindya. Nindya sesekali bernyanyi tapi kemudian lenyap saat terdengar suara helaan nafas panjangnya.
                Tidak ada kesenangan saat aku meniti langkah melewati Cemoro Kandang. Aura minta berhenti, lagi. Ini entah sudah ke berapa puluh kalinya dia meminta berhenti. Padahal dia sudah tidak membawa air di dalam carriernya, tapi dia masih saja merasa keberatan.
                “Makanya Ra, kopernya disimpen dulu kalo mau naik gunung.” Celetukku.
                “Koper, maksudnya?” Tanya Aura dengan nafas tersengal tapi ingin tahu.
                “Itu, koper di pipi, di kedua tangan, di perut, di dua paha sama betis.” Nindya membantuku menjawabnya. Tabu kan untuk seorang pria menyebut bahwa wanita bertubuh gempal dengan timbunan lemak super banyak?
                Aku tertawa terkekeh. Itu baru hiburan! Nindya tertawa sedikit, yang lainnya tertawa kecil. Aura hanya tersenyum kecut. Aku mengerti mengapa Aura enggan tertawa, apa bagian bagus dari lelucon jika yang ditertawakan adalah dirimu sendiri? Hanya orang cerdas yang mampu tertawa pada dirinya sendiri, itu kata sebuah buku.
                “Masih jauh nggak sih nih?” Siska berkeluh. Citra melonggarkan syal ungunya. Rena melepas carriernya dan tertidur di atas sebuah batang pohon, tak peduli bajunya yang kotor.
                “Sebentar yah, aku liat dulu.” Kata Nindya. Nindya belum menurunkan carriernya. Dia berjalan meniti tanjakan perlahan tapi pasti. Langkahnya tidak berhenti. Kami masih beristirahat. Menunggu kabar baik dari Nindya.
                “Gimana Nind?” Tanya Citra. Rena kembali memikul carriernya. Aku bangkit bersiap untuk kembali jalan. Siska mengeluarkan botol minumnya. Air tidak keluar. Siska kemudian meminta air milik Citra kemudian meminumnya sampai puas. Tak lama kemudian, air satu botol itu sudah berpindah tangan ke Aura dan tersisa seperempatnya di tangan Aura.
                “Minum itu untuk ngelegain tenggorokan aja. Jangan dihabisin. Kita nggak tau apa ada mata air engga disana.” Kataku.
                “Berisik! Jangan bikin gue nyesel pernah ikut ekspedisi bodoh ini deh. Emang nggak cape jalan dari kemaren sampe sekarang?” Citra menghardikku. “Puncaknya aja nggak tau dimana. Nggak tau kapan ini nyampenya. Nindya aja nggak tau kita ada dimana sekarang. Kita itu ngikutin orang bodoh, tau nggak?”
                “Kamu jangan ngomong gitu sama Nindya!” Aku menyela sebelum Citra semakin menyudutkan kesalahan perjalanan ini pada Nindya. Citra tidak tahu betapa Nindya memimpikan perjalanan ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengacaukan mimpi Nindya yang indah ini.
                “Lah, emang bener kan? Kita itu tolol banget ngikutin Nindya!” Citra berteriak semakin keras.
                “KAMU!”
                “Hey, puncak keliatan kawaaaannn!” Nindya berseru pada kami. Jaraknya mungkin sekitar 100 meter. “Ayo!” Suara Nindya terdengar bersemangat.
                Debatku dan Citra belum selesai. Tapi kami hentikan. Aku berharap berhenti selamanya. Aku tidak mengerti manusia macam apa yang Nindya bawa. Bukankah seharusnya perjalanan ini jadi menyenangkan? Mengapa gadis itu menyalahkan orang lain untuk segala kelelahannya? Siapa yang tidak lelah? Nindya juga pasti lelah. Wajahnya yang terus menerus pucat dari Ranu Pane itu pasti menahan rasa lelah juga. Tapi tetap tersenyum demi menyemangati yang lain!
                Dan disanalah pertama kalinya mataku berkenalan dengan sosok Mahameru. Menjulang ke angkasa. Atapnya tanah jawa. Megah. Tidak perlu keraguan. Menantang awan dan segala isinya.

0 comments:

Post a Comment