Mencari Damai bagian 5

—-          
                Ini entah dimana, aku hanya tahu barusan kami baru saja melewati sebuah air terjun dengan nama Coban Pelangi. Jalanan lengang. Matahari semakin lama semakin meredup. Perjalanan ini persis seperti Frodo yang berusaha ke Mordor.
                Aku menikmati dua hal dari perjalanan naik jeep ini. Pertama, aku menikmati udara sejuk, warna-warna hijau dan kuning dari pepohonan, awan yang tebal berarak tak beraturan di langit. Dan, coba tebak. Ya, Nindya. Nindya menikmati lehernya yang diterpa angin kencang.
Tangannya di sana, bersentuhan dengan tanganku yang sudah sedingin es. Aku bisa merasakan bahwa itu adalah tangannya karena aku melirik sedikit. Aku ingin sekali bisa menggenggam tangan Nindya lagi. Aku memakai kacamata hitamku. Aku sekarang mengerti mengapa kacamata menjadi salah satu barang bawaan yang tidak boleh tertinggal. Dan mungkin Nindya memberikanku peluang untuk mencuri pandang tanpa harus ketahuan olehnya.
                Aku berharap jeep ini tidak pernah sampai di tempat bernama Ranu Pane. Aku berharap terus seperti ini saja. Nindya melepaskan pegangan tangannya dari Jeep ini kemudian diacungkannya tinggi-tinggi ke langit. Nindya berteriak, “keren banget!”
                Supir dan teman dari supir jeep ini berbicara sesuatu yang tidak kumengerti. Nindya kemudian membalas ucapan supir itu, “bukan Mas, gini-gini gadis hutan loh. Cuma ini pertama kalinya ke Semeru.”
                Mereka tertawa. Supir dan temannya itu berbicara banyak pada Nindya. Aku diam. Pertama, tidak mengerti dengan bahasa mereka. Kedua, bagiku mereka seperti berkumur-kumur, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan.
                Jeep lagi-lagi berhenti. Aku heran kenapa jeep ini sering berhenti tanpa diminta? Kali ini berhenti di atas sebuah jurang yang bawahnya lembah dan sebuah bukit berwarna kekuningan. Mulutku sudah kusiapkan untuk bertanya tempat apakah ini.
                “Bukit teletubbies.” Sahut si supir. Supir itu berusia sekitar tiga puluh tahun. Bukan seperti laki-laki kebanyakan yang mulai montok ketika sampai usia itu, pria ini bertubuh tegap. Aku yakin sejarah naik gunungnya sudah tidak perlu diragukan lagi.
                Aku menikmati yang dinamakan bukit teletubbies. Tapi tetap, harus ada Nindya-nya. Nindya seperti ceri  di atas kue blackforest, seperti stroberi di atas sebuah es krim sundae. Tidak ada pun tidak apa-apa, semua normal. Hanya saja, apakah black forest tetap bernama black forest tanpa potongan ceri di atasnya?
                “Kayak lukisan yah….” Kata Nindya. Kemudian supir jeep itu menawari kami untuk berfoto. Kami pun diijinkan naik ke kap mobil jeepnya untuk berfoto. Kali ini sebelum melanjutkan perjalanan, Nindya merapikan iketan rambutnya yang sedikit melorot karena diterpa angin sepanjang perjalanan.
                Aku belum pernah melakukan perjalanan seperti ini. Diterpa angin sehebat itu. Di atas jeep yang berperang dengan jalan yang membuat kikuk. Belum lagi ban yang terkadang selip di antara pasir dan seolah siap terguling kapan saja.
                Dan benar dugaanku, bannya selip lagi. Kali ini di tempat yang tidak tepat. Mobil ini mengambil terlalu ke kanan, jeep sudah miring hampir empat puluh lima derajat. Tinggal menunggu waktu hingga Nindya yang persis ada di sebelah kanan jeep terguling ke dalam jurang. Aku menahan nafas. Nindya dengan wajah ngeri menatap ke bawah. Semuanya seolah dalam gerak lambat.
                “INJAK GASNYA!” Teriakku kencang. Supir itu, yang badannya sudah sama-sama miring empat puluh lima derajat memutar ban jeepnya kemudian menginjak gas dengan dalam. Tubuh Nindya hampir melompat keluar dari jeep. Aku menggapai tangannya. Menarik tubuhnya untuk kembali ke dalam jeep. Tangan Nindya yang lain sedang menarik tubuh Citra, si gadis bersyal ungu untuk juga tetap berada di dalam jeep.
                Kami semua akhirnya terduduk di dalam jeep. Aku menggenggam erat tangan Nindya di dadaku. Rasanya jantungku mau copot. Andai saja rongga dada dan perutku kosong, maka jantungku itu sudah tergeletak tak berdaya di atas tumpukan usus halusku. Mengenaskan jika perjalanan yang diharapkan mengasyikan ini harus berakhir dengan meninggalnya enam orang calon pendaki di sebuah jurang karena ban jeepnya selip.
                “Engga apa-apa, Rian.” Kata Nindya sambil mengelus tanganku dengan jemarinya yang kugenggam erat. “Ga apa-apa Cit.” Citra mengelus rambut Citra. Lelehan air mata di ujung mata Citra diseka dengan syal berwarna ungunya.
                Supir dan teman si supir itu malah tertawa keras. Mungkin senang karena bisa melihat ekspresi panik dari kami. Kemudian si supir meminta maaf. Nindya yang menjawab. Agak lama kami menghabiskan perjalanan sambil duduk. Kemudian Nindya kembali berdiri dan wajahnya diterpa angin kembali.
                Aku mengepalkan tanganku. Berusaha mengingat sentuhan tangan Nindya yang mengusapnya dengan lembut. Aku tidak mau mati sebelum bisa mengungkapkan perasaanku pada Nindya.
                Kami sampai di sebuah desa terpencil. Bisa kubilang terisolasi. Bayangkan saja jika penduduknya harus melewati jalan terjal barusan untuk ke kota. Apalagi namanya kalau bukan terisolasi?
                Kami turun dari jeep. Mengambil satu persatu carrier dan memikulnya di pundak. Kemudian Nindya berlari menuju sebuah wc umum. Dia memanggil kami untuk datang sambil berteriak. Setelah kami mendekat, Nindya seperti seorang presenter acara. Mempersembahkan, “selamat pagi, Ranu Pane!”
                Mataku, yang jelas hanya tertuju pada Nindya kemudian memperhatikan background yang Nindya coba kenalkan pada mataku. Sebuah danau. Mirip dengan Situ Patengang, hanya saja… Warna kuning yang berpendar di sekitar danau, bukit-bukit yang tercopy sempurna di atas permukaan air. Kabut tipis yang mengambang di atas permukaan danau itu. Maka kata-kata pertama yang keluar dari mulutku adalah, “anjir, indah banget!”

0 comments:

Post a Comment