sebuah puisi untuk sahabat

kawan, hidup memberikan kita jutaan pilihan, tapi juga menebar seribu jalan takdir yang harus kita tempuh... memilih jalan itu seperti memasukan tangan kita ke dalam sebuah kantung bernama kehidupan, yang berisi emas dan duri, terkadang kita baru menyadari apa yang kita peroleh setelah kita terluka olehnya.

Suatu saat, semua yang kita miliki akan menjadi tiada, meninggalkan atau tertinggalkan, itulah hukum yang berlaku disini. Seperti kemarin, kita bisa tertawa bersama dan kini aku meninggalkanmu menangis seorang diri.

Aku, dengan tangan menengadah ke langit, lututku yang bersimpuh diatas tanah ini, berdoa untukmu... kutahu, ribuan kata yang kuuntai takkan mampu menghapuskan lukamu, apapun yang kuberikan takkan menggantikan kehilanganmu, tapi bersabarlah kawan...

Tuhan sedang mengujimu, membiarkanmu mengecap rasa kehilangan yang amat dalam lebih dahulu, mungkin esok orang lain akan mengecap rasa yang sama sepertimu. Bersabarlah...

Biarkan air mata mengiringi kepergiannya dari sisimu, tapi jangan kau biarkan air mata itu menjadi penghalang jalannya untuk pergi.

Kuucapkan, selamat jalan untuk ibundamu tercinta... semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, semoga beliau diberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan diampuni segala kekhilafan-kekhilafannya...

Dengan puisi beruntai doa, Amiiinnn...



Untuk Indramayu, 3 September 2010...
untuk teman yang tak pernah kutemui, untuk teman yang hanya kuajak bicara melalui dinding bisu facebook...

0 comments:

Post a Comment