Skip to main content

Puisi dari diary lama

Aku mencintaimu dengan cara yang berbeda,, aku berlari seolah meninggalkanmu tapi asal kau tahu aku menunggumu dipersimpangan jalan,, tapi kau tak pernah tahu,, roda kehidupan berjalan seiring kekecewaanmu padaku,, kau membuatku menangis malam ini,, kau mau aku sangat memperhatikanmu., namun hatiku tak terbuka hanya karena cintaku,, abu cinta bertebaran didepanku darimu,, kini kau membuatku menangis lagi,, kau membiarkan dunia menghempaskanku dalam kehidupan, lagi,,

Aku bukanlah debu yang hilang, juga bukan lagi puzzle yang cacat atau duri dalam daging,, anggaplah aku seorang manusia, bukan boneka marionet atau barbie dalam rumah kaca,, senyumku nyata, bukan rekayasa genetika atau pembalasan pedih,, aku berputar dalam angin, merasakan belaian indah pelangi dan hembusan awan,, tangkaplah aku seperti mimpimu,, aku bukan angan angan,,

Aku mencintaimu dengan nada yang berbeda,, dalam lagu pelan penuh arti,, kau menatapku kasar jika kulantunkan lagu cinta ini,, mendendang sambil menari didekatmu,, sungguh aku mencintaimu dengan berbeda,, seperti angin yang menyentuh rerumputan,, seperti rerumputan yang lembut,, dan wangi angin,,

You’Re my sunday morning. Make Me wake early. To across you. Before it getting day. My sunday morning go to my hell. Bored. Hurt. Feel weak… Sunday morning… I love you. This song never be for you. My sunday morning please take of. To the place that i want. Oh sunday morning my melody. My song. My day. My all. I just wanna give this song for you. For my sunday morning…

Comments

Popular posts from this blog

Beyond The Inspiration : Catatan Pemikiran Saya (Bagian 1)

"Pertanyaan yang salah tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang benar." Saya dulu mempertanyakan,  WHY AM I CREATED THIS WAY WHILE OTHERS CREATED THAT WAY?  Saya menganggap itu pertanyaan fundamental yang akan mengungkap jati diri saya dan makna Tuhan dan saya. Padahal, sekarang saya sadari bahwa itu tidak lebih dari protes saya terhadap diri saya sendiri, terhadap apa yang saya miliki, terhadap apa yang tidak mampu saya dapatkan, terhadap apa yang orang lain miliki dan mampu dapatkan. Mengapa saya tidak seperti orang lain? Mengapa orang lain bisa mencapai sesuatu yang saya inginkan sedangkan saya tidak? Apa Tuhan mengesampingkan saya karena diri saya yang seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan baru terus menerus muncul. Semakin kreatif rumusan pertanyaannya padahal latar belakangnya hanya satu: saya enggan menjadi apa yang Allah perintahkan kepada saya. Saya menganggap seharusnya ada cara lain yang Tuhan inginkan, ada cara lain, harus ada cara lain. Cara yang sejalur dengan ...

Rumah Makan Ulah Lali: Nyicipin Sate dan Sop Iga yang Super Pasrah

Hari Sabtu kemarin adalah hari dimana saya membayar batalnya puasa saya di bulan Ramadhan. Karena ada sisanya sekitar 3 hari, jadi saya bayar puasa sekaligus hari Kamis, Jumat dan Sabtunya. Nah, kebetulan suami juga kayaknya kangen makan daging-dagingan, jadilah kami memutuskan untuk makan sate kambing. Saya sih gak suka ya sama sate kambing, biasanya saya pesen sate ayamnya aja. Lumayan bingung juga untuk daerah Kuningan mesti makan sate yang enak dimana. Maklum saya kan dari Bandung, kalo makan sate di Bandung sih ga usah bingung soalnya saya udah paham banget tempat makan dengan sate yang enak dan harganya murah. Tapi kalo di Kuningan? Kebetulan suami juga lama di Bandung dan jarang banget jalan-jalan ke Kuningan, jadilah ketika sama-sama gak taunya, kita memutuskan untuk cari via google. Dari google, kita cari keyword sate kambing Kuningan Jawa Barat , muncullah beberapa rumah makan yang menyediakan sate kambing, diantaranya ada Sate Cibeber dan Sate Jalaksana . Tapi kata...

Beyond The Inspiration : Catatan Pemikiran Saya (Bagian 2)

Saya paling suka bilang bahwa saya ini puzzle yang cacat, bagian yang tidak diperlukan dan diinginkan. Sebuah produk gagal yang lolos quality control dan diharuskan menjalani kehidupan yang tidak diinginkannya. Yaitu menjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan diperlukan orang lain. Padahal, apa sebenarnya maksud saya itu? Saat itu saya mencintai seorang lelaki yang bagi saya dia adalah lelaki shalih, tapi lelaki itu memilih perempuan lain yang jauh di atas segalanya dari pada saya. Saya kecewa lalu saya mulai berceloteh bahwa saya ini produk gagal. Kembali lagi seperti sebelumnya bahwa saya ini sebetulnya hanya kecewa. Tapi justru mempertanyakan dan menyimpulkan hal yang salah. Ketika lelaki sholih itu tidak memilih saya, saya bukannya berusaha memperbaiki diri dan memantaskan diri, tapi saya justru berkubang dalam kesesatan pemikiran bahwa saya seharusnya dicintai seperti apa adanya saya. Padahal simple saja, lelaki itu bukan jodoh saya. "Tidak ada kata gagal atau tidak berhasil, ...