Skip to main content

Posts

Mencari Damai bagian 9

—-                 Tengah malam, kami menyiapkan semua perlengkapan dan menutup tenda yang semakin kencang diterpa angin. Aku menggunakan baju berlapis, mengikat leherku lebih rapat dengan syalku. Angin menjadi musuh terbesar di Kalimati. Tubuhku menggigil dahsyat.                 “Jangan diem. Kita harus bergerak biar nggak dingin.” Kata Nindya. Bibirnya membiru saat kusenter dengan headlamp-ku. Nindya memimpin doa lagi. Kemudian langkah kami dimulai. Puncak Mahameru terlihat sangat dekat dari Kalimati. Tapi pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan kemarin dan kemarinnya lagi adalah, Ranu Kumbolo tidak dekat. Puncak pun tidak dekat dari Jambangan. Dan sekarang, puncak pun tidak dekat meski pun sudah sampai di Kalimati.                 Kami ...

Mencari Damai bagian 8

—-                 Jambangan, adalah nama tempat kami bertemu dengan puncak Mahameru untuk pertama kalinya. Aku dan Citra gencatan senjata. Selama Citra tidak membahas masalah barusan, aku pun diam saja. Berpura-pura kami adalah kelompok yang harmonis di mata Nindya.                 Perjalanan dilanjutkan. Puncak sudah terasa semakin dekat. Kami berjalan bersemangat. Melewati pasir di Jambangan, kemudian melewati akar-akar, semak kemudian sampai di tempat bernama Kalimati. Nindya tetap berjalan lebih dulu. Dia yang lebih dulu sampai di posko Kalimati, melewati padang rumput yang bertanahkan pasir vulkanik panas. Pipiku terasa panas.                 Di sana kami duduk beristirahat. Angin di Kalimati lebih kencang dari angin di Ranu Kumbolo. Tempat...

Mencari Damai bagian 7

—-                 Seseorang duduk memperhatikan sesuatu. Mataku yang masih ingin menutup kupaksakan untuk terbuka. Nindya duduk, menatapku sambil tersenyum. Aku terkejut, segera kurapikan wajahku dengan menyapu wajahku dengan syal yang melingkar di leherku.                 “Ini waktu yang tepat, Rian.” Kata Nindya. DEG. Jantungku hendak berhenti. Aku bangkit, duduk menghadap Nindya. Cahaya kuning muncul menyinari wajah Nindya dengan lembut. Nindya masih menatapku. Matanya sekarang menghadap ke sumber cahaya kuning itu. “Selamat pagi, Ranu Kumbolo.”                 Kemudian keajaiban itu muncul. Cahaya kuning yang lembut itu kemudian menyinari mata Nindya yang berwarna kecokelatan. Aku selalu suka matanya yang berwarna cokelat itu. Senyumnya merek...

Mencari Damai bagian 6

—-                 “Nggak usah pake anjir kayaknya bagus deh, Rian.” Protes Siska. Ya, ada Siska, Citra, Rena, Aura, Nindya dan aku. Enam orang yang berusaha mencapai puncak itu.                 “Puncaknya dimana Nind?” Tanyaku.                 “Dimana yah? Aku juga nggak tau. Aku baru pertama kesini, inget kan?” Jawab Nindya sambil celingukan mencari puncak Mahameru. Nindya kemudian dipanggil oleh supir jeep itu. Nindya mengeluarkan uang kemudian supir itu menjabat tangan Nindya dan supir itu pergi. “Kita registrasi dulu yah. Sebentar.”                 Hanya lima menit Nindya berbicara dengan petugas di Ranu Pane itu, kemudian petugas itu menunjuk sebuah jalan aspal menuju ...

Mencari Damai bagian 5

—-                            Ini entah dimana, aku hanya tahu barusan kami baru saja melewati sebuah air terjun dengan nama Coban Pelangi. Jalanan lengang. Matahari semakin lama semakin meredup. Perjalanan ini persis seperti Frodo yang berusaha ke Mordor.                 Aku menikmati dua hal dari perjalanan naik jeep ini. Pertama, aku menikmati udara sejuk, warna-warna hijau dan kuning dari pepohonan, awan yang tebal berarak tak beraturan di langit. Dan, coba tebak. Ya, Nindya. Nindya menikmati lehernya yang diterpa angin kencang. Tangannya di sana, bersentuhan dengan tanganku yang sudah sedingin es. Aku bisa merasakan bahwa itu adalah tangannya karena aku melirik sedikit. Aku ingin sekali bisa menggenggam tangan Nindya lagi. Aku memakai kacamata hitamku. Aku sekarang me...

Mencari Damai bagian 4

——                 “Malang, stasiun baru! Malang stasiun baru! Malang!” Suara salah seorang petugas kereta menggelegar di telinga kami. Seolah pria itu tahu aku harus berhenti di stasiun ini. Mata kiriku menangkap wajah Nindya yang tertidur sedikit buram. Aku menempelkan mataku di kaca kereta ini untuk tidur. Saking lelahnya, aku tidak merasa terganggu. Kereta sedang berhenti.                 “Nind. Nind.” Kataku. Mengguncang tangan Nindya. Nindya masih menutup matanya. Mulutnya sedikit terbuka dan giginya nongol malu-malu dari celah bibirnya. Darahku berdesir. Menatap Nindya seperti ini, ah, selalu manis. “Nindya…” Aku sekarang memberanikan diri menggenggam tangan Nindya sambil mengusap punggung tangannya dengan ibu jariku. Rena terbangun.              ...

Mencari Damai bag 3

—————                 Nindya memintaku datang ke kampus untuk membicarakan tentang pendakian yang akan dimulai beberapa hari lagi. Nindya berhasil mengajak setidaknya 5 orang dalam perjalanan itu. Keseluruhannya adalah perempuan. Tapi Nindya bisa jadi dihitung sebagai laki-laki, karena dia tentunya sudah sering naik turun gunung, bukan?                 Dan disanalah Nindya duduk. Kami membentuk lingkaran agar mudah memusatkan obrolan. Kami terpisah 3 orang baik di bagian kanan dan kirinya. Kami bersebrangan. Aku diam memperhatikan apa yang dibicarakan olehnya. Nindya beberapa kali mengulang bawaan yang menurutnya tidak boleh tertinggal.                 Nindya bilang, “ini gunung 3676 meter di atas permukaan laut. Jangan macem-macem!” Nindya pantas m...