Ayahku Si Malaikat Berkantol


Ada 3 orang yang kuanggap bukan lelaki di dunia ini. Mereka adalah kakekku, ayahku dan adik lelakiku. Bagiku mereka bertiga tidak termasuk dalam kategori lelaki. Lelaki dalam bayanganku adalah seorang dengan jenis kelamin pria yang suka menyakiti hati wanita. Kakekku tidak, setidaknya itulah yang kulihat sampai nenekku meninggal. Kakekku tetap setia kepadanya hingga ajal menjemput. Ayahku, meski pun adalah lelaki pemarah tapi mencintai ibuku, itulah yang kulihat dalam kesehariannya. Adikku, meski pun dia masuk kategori lelaki dalam bayanganku, aku tetap akan menganggapnya bukan sebagai lelaki.

Dalam kehidupan percintaanku, aku mengenal banyak lelaki. Lelaki-lelaki itu mengajarkanku banyak hal, kebanyakan dari mereka adalah temanku. Aku melihat dari dekat kehidupan mereka sehingga aku bisa mempelajari mereka. Hampir semua pria yang dekat denganku masuk dalam kategori lelaki. Mereka brengsek, penipu, pembohong dan menganggap wanita hanya sebagai objek saja. Awalnya mengenal mereka seperti mendapatkan musibah, tapi akhirnya aku paham mengapa aku dipertemukan dengan lelaki-lelaki itu, ada suatu pelajaran yang bisa kupetik.

Aku bisa memprediksi apakah lelaki itu dalam tipe setia atau berengsek. Aku bisa tahu apakah lelaki itu benar mencintai seorang perempuan atau tidak. Aku juga bisa tahu apakah lelaki itu tulus atau hanya gombal. Ini bukan sekadar dari penampilan semata, aku benar-benar bisa memprediksinya. Tapi ilmu yang kuperoleh itu tidak berarti banyak untuk kehidupanku sendiri. Karena pada akhirnya, aku tetap saja kecolongan.

Adalah ayahku, yang kukira seorang pria sejati, meski pun temperamental namun berhati baik dan mencintai ibuku. Nyatanya tidak seperti itu. Ayahku adalah seorang manusia berkantol seperti lelaki kebanyakan. Mereka lebih banyak beranggapan bahwa kantolnya itu perlu dipuaskan. Mereka merasa ketampanan dan kedermawanan mereka tidak cukup jika hanya ditampung oleh satu wanita saja. Dan hal itu terjadi.

Tidak butuh lama untukku mengetahui bahwa ayahku mengalami puber kedua. Juga tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa ayahku jatuh cinta lagi. Kemudian waktu seakan berlalu sedetik-sedetik saat aku mengetahui bahwa ayahku berpacaran dengan seorang pelacur, berniat menikahi si pelacur itu bahkan meninggalkan ibuku dan keluarganya.

Aku ingat sekali saat ayahku mengenalkan pelacur itu ke rumahku. Ayahku bilang, "namanya Yanti. Ibu Yanti ini janda sukses yang punya banyak panti pijat. Ibu Yanti ini dulu mantan pelacur tapi sudah bertaubat, sekarang dia ingin belajar menjadi orang yang baik." Tidak perlu tebak-tebakan untuk memahami maksud kata-kata ayahku. Ayahku merasa dirinya adalah malaikat penyelamat yang akan membawa si pelacur dan ibunya yang merupakan germo itu menuju surga. Ayahku yang tempramental merasa memiliki hati malaikat saat kantolnya berbicara.

Aku tahu ayahku berbohong saat bilang pergi dinas keluar kota, yang terjadi sebenarnya adalah ayahku pergi mencumbu pelacur itu. Ilmu mengenali lelaki itu kupergunakan untuk ayahku. Tidak sulit, ayahku menganggap aku adalah anak kecil, tidak paham dunia. Lalu kebohongan-kebohongan lain mengalir seperti air terjun hingga muncul keinginan dalam hati ayahku untuk segera menjadikan pelacur itu istri keduanya.

Ibuku adalah seorang perempuan penyabar dan baik, hatinya bersih dan halus, tidak mencurigai sedikitpun gelagat ayahku. Bagi ibuku, ayahku adalah lelaki baik yang tidak mungkin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh keluarganya. Nyatanya, ayahku sudah sukses menggadaikan semua itu.

Saat itu kesabaranku sudah habis, kuhadapi ayahku yang temperamental itu. Tidak banyak yang bisa kudapatkan, hanya permintaan maaf. Aku tahu ayahku tidak benar-benar minta maaf, dia hanya terkejut bahwa kebohongannya terungkap. Kemudian dia juga berjanji akan berhenti berhubungan dengan pelacur itu. Aku juga tahu itu bohong. Jatuh cinta itu seperti candu, mengelak justru menambah hasrat. Itu pelajaran paling dasar sekali. Setelah kejadian itu, ayahku semakin rapi menyembunyikan kebohongannya. Tapi semakin lincah ayahku berkelit, semakin nyata kemarahanku padanya.

Aku menghadapi ayahku lagi untuk kedua kalinya, menegurnya sekali lagi. Kali ini karena ibuku tahu. Ibuku patah hati, sakit luar biasa. Ini bukan sekedar seorang istri yang dikhianati suaminya, ini mengenai runtuhnya mimpi satu surga antara ibuku dan ayahku. Aku sering melihat perempuan tersakiti hatinya, aku juga pernah merasakan sakit hati. Ada banyak yang mampu sembuh dalam hitungan hari atau bulan, nyatanya untukku dan ibuku tidak pernah sembuh. Kali kedua ini ayahku marah karena lagi-lagi kebohongannya yang sudah disusun begitu rapi terungkap. Si pelacur itu mulai gelisah ketika ayahku terpaksa harus benar-benar berhenti berhubungan darinya. Aku tidak merasa puas ataupun senang melihat si pelacur itu tersiksa, bagiku itu sakitnya si pelacur itu ditinggal ayahku baru dalam taraf sangat dangkal. Lagi pula, apa yang pelacur pahami mengenai kepercayaan dan kesetiaan? Ayahku berusaha kembali ke rumah, tapi aku tahu hatinya ada di tempat lain

Selama apa seorang yang sedang jatuh cinta dapat berpuasa tidak menemui kekasih hatinya? Itulah yang terjadi. Padahal ayahku sudah semakin rapi, aku bahkan agak kesulitan mempelajari gerak-geriknya, tapi tetap saja bangkai akan selalu tercium. Kali ini ayahku lebih dari sekedar marah, dia memukuliku. Aku bukan tidak mampu memukul balik, akal sehatku masih berjalan dan aku tahu dia ayahku. Sayangnya saat itu mungkin dia sudah tidak memikirkan bahwa aku ini adalah anaknya jadi mudah saja untuknya memukuliku. Ayahku mengancam akan melakukan hal yang lebih dari sekedar memukuliku jika aku masih mengintainya.

Apakah aku takut? Tidak. Aku tidak takut. Perasaan takut itu sudah lama hilang. Ayahku yang justru takut kepadaku. Dia begitu takut bahwa aku, anak yang dia kenal sebagai anak, ternyata adalah seorang wanita yang bisa menjadi mesin pencari lebih canggih dari google dan lebih teliti dari polisi. Aku terlatih bersama teman-temanku kemudian dilatih secara intensif oleh ayahku, bagaimana seorang lelaki akan berbohong padaku?

"Kamu tidak boleh terlalu idealis mengenai sebuah hubungan, suatu saat justru kamu akan termakan idealisme-mu sendiri, Sarah." Begitu kata Ayahku ketika aku mulai menerornya dengan cerita-cerita mengenai perselingkuhan. Tahu apa ayahku? Dia hanya lelaki berkantol pada umumnya. Semenjak aku mengetahui rahasianya, apapun yang dia ucapkan padaku hanya berbunyi, "kantol, kantol, kantol."

Jika saja ayahku cukup jantan dengan kantolnya itu, maka seharusnya ayahku menghadap ibuku dan bilang bahwa dia ingin menikah lagi. Saat itu, mungkin saja ibuku akan menangis kecewa atau justru menggorok lehernya, tapi setidaknya dengan kantolnya itu ayahku bisa membuktikan bahwa dia adalah seorang pria baik yang masih ingin berpetualang. Ayahku justru bersembunyi di balik kesan pria baik yang berkomitmen tinggi pada keluarga. Kenyataannya itu semua hanya kantol.

Aku masih menertawakan gombalan-gombalan ayahku yang dikirim ke pelacur itu. Ayahku benar-benar menganggap dirinya seorang malaikat yang hendak membawa si pelacur naik ke surga. Hahaha, ayahku, malaikat? Aku meyakini bahwa cara si pelacur naik ke surga bersama ayahku yang malaikat itu adalah dengan berpegangan pada kantol ayahku. Aku tidak keberatan disebut sebagai anak durhaka, tapi aku meyakini bahwa ayahku harus mendapatkan balasan dari Tuhan dan satu-satunya tempat yang cocok untuknya adalah di neraka. Amin.



Keterangan: Kantol adalah penyebutan penulis untuk alat kelamin pria, pada umumnya disebut kon-tol.

0 comments:

Post a Comment