aku bicara tentang DOSA

Aku mau bicara tentang dosa. Apa itu dosa?

Semua orang mengelu-elukan kata "dosa". Aku terlalu muda untuk mengerti apa itu dosa. Aku belum "terlalu" berlumuran dosa, setidaknya tidak seperti kau. Ya, untuk apa kau mencari orang lain? KAU itu kau, yang matanya menelusuri tulisanku ini. Tapi, untuk apa aku berteriak tentang "dosa" juga? Apa urusanku dengan dosa?
Para kaum muslim, pastur-pastur, biarawan dan biarawati, biksu dan bikuni, pemuka-pemuka agama saling silang meneriaki satu sama lain sebagai "pendosa". Apa itu pendosa?

***
Siang ini, aku sedang duduk di ruang tengah sendirian. Kupandangi layar kotak dengan gambar yang terus bergerak dan berpindah tiap detiknya. Dia adalah televisi, Tuhan-nya manusia masa kini, kepadanyalah doa-doa dipanjatkan dan juga kepadanyalah air mata berlinangan, apalagi ketika [si] Tuhan sudah digondol maling. Mataku semakin lelah, televisi terus memutar gambar dengan warna-warna mencolok yang tak bisa kueja satu persatu warnanya.
Sejenak, pikiranku teralihkan oleh sebungkus rokok di sampingku. Dia tergeletak di atas meja beserta korek api gas; tak berdaya, tak bernyawa. Kuperhatikan tulisan di bungkusnya. Tak biasanya aku memperhatikan rokok hingga sedetil ini.
Mataku kembali bercengkrama dengan televisi yang sudah mulai memutar acaranya. Aku baru ingat, aku tak memperhatikan acara ini dari awal. Sejak tadi, pikiranku melayang terus ke arah rokok dan korek api gas itu. Padahal, apa spesialnya dari dua benda itu?
Aku teringat kekasihku, Reda namanya. Reda adalah mahasiswi di jurusan hukum, sama denganku. Reda mulai merokok sejak SMA hingga sekarang. Rokok ini pun pasti miliknya dan pasti tertinggal saat dia datang kesini kemarin.
Aku mengambil bungkusan rokok itu. Kubuka bungkusan itu. Nampaklah pantat-pantat puntung rokok yang mulus dan bersih. Enam batang yang menggoda. Aku tak mengerti mengapa Reda menyukai rokok ini selain tampilannya yang seksi. Kudekatkan bungkusan rokok itu ke hidungku, aku langsung bersin. Ada sesuatu yang menggelitiki rambut halus di hidungku. Kemudian kusimpan rokok itu kembali ke meja dengan setengah melemparnya.
Siang ini rasanya begitu membosankan. Aku sedikit mengantuk, padahal dua jam lagi aku harus pergi ke kampus untuk kuliah. Kupikir, segelas kopi bisa meredam rasa kantukku. Lalu aku berjalan ke dapur, memasak air dan menyeduh secangkir kopi hitam. Kopi ini tak kalah hitam dengan rambut dan mataku.
Aku berkawan dengan kopi, tapi tidak dengan rokok. Aku benci rokok, rokok pembunuh dan semua itu terpampang jelas di bungkusnya. Tapi aneh, produsen rokok sudah melabeli tiap bungkusnya dengan tanda bahaya, tapi tetap saja penjualan rokok seolah tak pernah surut. Apa harus memasang Izrail di setiap bungkusnya agar semua orang mengerti?
Aku kembali ke kursiku lagi. Benar saja, kopi ini membuat rasa kantukku berkurang. Jantungku seolah diberi dopping untuk memompa darah ke seluruh tubuhku. Rasanya nyaman sekali.
Jantungku berkontraksi, sepertinya terlalu siang untuk minum kopi. Jantungku seperti terbakar, kupegang dada kiriku. SAKIT! Aku merasa ajalku tak lama lagi. Padahal, aku belum melakukan hal baik hari ini. Aku belum siap bertemu Tuhan. Aku ingin berteriak namun lidahku kelu. Waktu terasa lama sekali.
Perlahan, rasa sakit itu mulai menghilang. Hingga akhirnya tak terasa apapun. Waktu kembali bergerak seperti biasa. Tuhan! Terimakasih...
Kusingkirkan gelas kopiku menjauh. Aku takkan menyentuh kopi lagi. Rasa sakitnya tak bisa kutahan. Untung saja aku tak mati tadi.
Televisi itu masih memutar gambar dengan warna cerah yang kini kurasa menusuk-nusuk bola mataku. Kulirik jam dindingku, ternyata waktu baru berjalan 5 menit.
Aku teringat pada Reda. Reda adalah gadis yang manis dan aku sangat mencintainya. Aku suka senyumannya yang merekah setiap kali ada di dekatku, aku suka caranya menghembuskan asap rokok dan aku suka caranya menjentikan abu rokok ke dalam asbak.
Kuambil bungkusan rokok itu, kukeluarkan sebatang dan kubakar bagian pantat puntungnya, sama seperti Reda yang selalu membakar bagian pantat puntung rokoknya sebelum dia mulai merokok.
Aku ingat dengan jelas kata-katanya, "Biar pori-porinya ngecil."
Reda. Gadis yang amat kucintai itu juga membuang-buang uangnya untuk puntung-puntung maut yang hanya memberi kepuasan semata baginya. Reda seolah membeli kematiannya dan dia dengan senang hati melakukannya. Aku lebih suka melihat Reda bolak-balik makan baso dari pada melihatnya menyulut satu batang rokok.
Hidungku selalu sesak menghirup asap rokok Reda. Reda, bagaimana mungkin kau tahan ketika asap itu memasuki paru-parumu dan merobek alveolusmu? Aku tak mengerti, Reda.
Andai saja rokok ini adalah benda hidup, akan kutanyakan padanya apa yang membuatnya istimewa? Apa yang membuatnya dicintai perokok di seantero jagad raya ini?
Aku takkan pernah mendapatkan jawaban, aku takkan pernah mengerti karena aku terus mempertanyakan tanpa mulai mencari tahu. Mencari tahu? Bahaya rokok sudah terkenal, bahkan ketika kita mengetikkan keyword rokok di situs google, maka artikel yang muncul adalah bahaya rokok, bukan keuntungan rokok. Aku sudah cukup tahu bahaya itu.
Jress. Aku menyalakan korek api gas di tangan kananku. Kupegang rokok di tangan kiriku dan bibirku menyentuh puntungnya. Kudekatkan api itu ke ujung rokokku. Seperti cara Reda, kudekatkan apinya, kuambil nafas kencang dari mulutku. Kulihat, aku cukup ahli juga untuk menyalakan rokok. Padahal, ini pertama kalinya bibirku menyentuh puntung rokok, juga pertama kalinya tanganku menyulut rokok. Tapi, sehebat apapun seorang pemula, pemula hanyalah pemula. Aku tak merasakan ada asap masuk ke paru-paruku. Rasanya seperti aku menghisap udara biasa saja. Maka kusulut lagi rokokku dan menghisap lebih dalam, tapi masih saja tak ada asap.
Aku menyerah. Kumatikan korek api gasnya, sedikit kulempar dan kujauhkan puntung rokok dari bibirku. Kemudian kuhembuskan nafas kecewa dari mulutku. Aku terkejut. Kukira rumahku kebakaran. Asap putih keluar dari mulutku begitu tebal. Aku sendiri tak dapat percaya bahwa asap itu keluar dari mulutku. Rasanya aku bermimpi. Aku terus menghembuskan nafas dan asap putih keluar lebih banyak lalu mulai menghilang ketika hembusan nafasku mencapai titik maksimalnya.
Kukibas-kibaskan tangan kananku untuk menghilangkan asap yang mengganggu pengelihatanku dan berpindah ke ujung kursi yang lain.

***
DOSA. Apa itu dosa? Semua orang bicara tentang dosa seolah mereka adalah makhluk yang paling tahu apa itu dosa. Setiap dosa akan berhubungan dengan neraka. Seolah neraka adalah tempat pembuangan akhir dari segala kesalahan dan dosa adalah salurannya. Benarkah semuanya semudah itu?
Dosa bagiku adalah ketika aku melakukan suatu hal yang membuat jantungku berdebar kencang saat memulainya dan aku membutuhkan waktu yang sangat banyak untuk berpikir melakukannya. Aku tak perlu mendapatkan "nilai" dosa yang universal, bagiku hal apapun yang membuat jantungku berdegup kencang dan membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkan sebab akibatnya adalah sebuah dosa.

***
Perlahan, batang rokok yang panjang semakin memendek. Aku rakus, tak kubiarkan paru-paruku bernafas tanpa asap itu. Tak seperti Reda  yang dengan santai menikmati setiap tarikan rokoknya, aku tergesa-gesa ingin menghabiskannya. Hingga akhirnya kurasakan kepalaku berputar-putar, namun masih tak berhenti menghisap rokokku.
Kini aku merasa melayang-layang, aku tak bisa melihat gambar di televisi dengan jelas sekarang. Aku mencoba terus berkonsentrasi pada menghisap rokok itu. Seperti inikah rasanya rokok yang setiap hari dihisap oleh Reda?

***
Menurutku, sesuatu yang membuat hati nurani berkecamuk, saling bantah antara hati dan pikiran, semua itu adalah dosa. Aku yakin semua orang punya hati nurani, meskipun kadang nurani itu terbuang dan hanya menyisakan hati yang tak cukup luas untuk menyayangi apalagi memikirkan hal lain selain diri sendiri. Nurani itu seperti dinding, saat kita melakukan dosa, maka kita mendobrak dinding itu. Awalnya lubang di dinding yang kita buat itu kecil, sehingga masih tersisa rasa sesal, malu dan enggan untuk diulangi. Tapi setelah dinding itu didobrak berkali-kali, dinding itu berubah menjadi pintu, pintu itu adalah dosa. Dan keluar dari pintu itu adalah neraka.

***
Rokokku masih panjang tapi kuputuskan untuk segera mengakhiri semuanya. Tanganku bergetar hebat. Aku menggapai gelas berisi kopiku dengan susah payah lalu kuseruput kopi di dalamnya. Berharap aku mendapatkan energi dari setiap tetesnya.
Selama lebih dari setengah jam aku tetap diam di kursiku tanpa melakukan apapun. Aneh, aku adalah orang yang dilahirkan dengan kelebihan kinestetikal. Seseorang yang takkan pernah diam. Menyuruh orang sepertiku diam sama dengan menyuruhku mati. Tapi aku bisa tak bergerak melakukan apapun dalam waktu setengah jam. Apakah aku mati?
Aku melihat wajah Reda begitu dekat denganku. Ada sesuatu yang menetes ke pipiku; hangat. Reda sedang memelukku sambil menangis. Perlahan aku semakin bisa mendengar raungan tangisnya. Dia memanggil namaku. Aku ingin membelai wajahnya dan menghapus air matanya  tapi tanganku sulit digerakan.
"Rreedaaa..." Kukerahkan seluruh tenagaku untuk memanggilnya. Reda melepaskan pelukannya dan menatapku.
"Kamu yang sabar ya Man." Kata Reda. Aku mencoba menggerakan seluruh tubuhku tapi tak bisa.
"Aaakkuuuu keennaapppaaa?"
"Kamu kena serangan stroke. Tubuh kamu lumpuh."

***
Dan itulah dosa. Itulah nurani. Itulah neraka. Kau takkan pernah sadar bahwa kau sudah sampai di neraka sebelum seluruh dinding nuranimu hancur.
Maka, aku bersujud memohon ampunan pada Tuhanku, bukan Tuhan kotak bernama televisi. Dia Tuhan yang ter-Maha.
Untuk Reda-ku, berhentilah sebelum dindingmu runtuh, sayang. Aku sangat mencintaimu hingga aku harus menjadi label agar kau berhenti melakukan dosa.
Aku mencintaimu, Reda, bahkan lebih dari aku mencintai diriku sendiri.


24 Juni 2011

0 comments:

Post a Comment