Skip to main content

Posts

si hitam pahit

Aku sudah bosan dipermainkan olehmu , kataku pada si hitam pahit. Kalau kau mau bermain-main, bermain saja dengan yang lain! hey hitam pahit, aku suka jiwa rock and roll -mu. Tapi itu tak berarti bahwa aku harus ketagihan padamu setiap hari. Aku punya hidup sendiri. Aku punya pantangan dan rasa sakit yang harus kuhindari. Kau boleh suka padaku, kau boleh memujaku. Menghina diriku pun tak apa-apa. Aku takkan menyimpan umpatanmu dalam hati. Aku bukan orang yang bisa kau suruh-suruh seenaknya, aku bukan penikmatmu seperti yang lain. Aku tidak akan membiarkan diriku jatuh dalam rengkuhan rasa sakit. Si hitam pahit! Kau membuatku kesal. Caramu. Semuanya. Tak bisakah kau merenggangkan sikap angkuhmu untuk memiliki? Aku bukan alat! Aku tak mau berguling-guling dalam rasa sakit dengan mulutku yang tertutup. Takut bicara. Takut menyakiti. Takut lebih tersakiti. Rasa sakit, hitam pahit, yang membuatku belajar untuk tak mudah masuk dalam jeratan. Apalagi jeratanmu. Kau bersikap seperti...

untuk 1 orang...

---untuk kau yang cantik di sebrang mejaku Kau mendiamkanku, entah sudah berapa jam sejak terakhir kau bicara denganku. Aku tahu aku telah melakukan hal yang membuatmu kesal. Aku menyadari dan aku sedang dalam keadaan sengaja melakukannya. Kau diam. Aku juga diam. Kau tak mau menyapa. Akupun enggan. Kau berharap kau dapat mengguncang perasaanku? Tidak lagi. Ketika kau diam. Aku juga akan diam. Kita lihat, siapa yang akan menang, Tuan... Aku menyukaimu yang banyak bicara dan terlihat pintar di hadapanku. Aku suka menjadikan diriku bodoh di hadapanmu agar kau selalu bicara. Tapi jika kau adalah baja, aku memilih menjadi titanium. ---kau, yang duduk di dekat dinding dan aku berdiri di dekat jendelanya Kau juga mendiamkanku. Aku mengharapkan kau menyapaku sejak kemarin. Ah tidak, dari sebulan, mungkin 2 bulan yang lalu. Sekarangpun aku masih mengharapkannya. Tapi aku tak begitu ambisius seperti kemarin karena kutahu kau merindukanku. Hey, aku juga merindukanmu. Tak bisakah kita melu...

5 cm (kataku)

Aku mengenalmu dalam ketidaksadaranku. Aku tahu kau ada. Tapi tak pernah memperhatikanmu. Kau adapun aku tak tahu. Kau tak adapun aku tak peduli. Kau jauh atau dekat tak ada bedanya bagiku. Kau bersama siapapun semua terlihat sama untukku. Aku mengingatmu karena kau mengingatku. Karena kau mengingatkanku. Karena kau terus memaksa otakku mengingat namamu. Aku ingat namamu. Tapi tidak wajahmu. Kau, yang namanya 5 cm di depan keningku. Kau, yang wajahnya 5 cm di belakang kepalaku. Aku kadang melupakanmu berbulan-bulan. Pernah bertahun-tahun. Kemudian aku mengingatmu kembali saat mendengar kata-kata yang pernah diucapkan olehmu. Childish . Aku didepan matamu adalah seorang dengan kepribadian childish. Entah mengapa aku juga tak bisa mengelak saat kau memanggilku seperti itu. Kau, adalah orang yang datang di waktu yang tak pernah tepat. Kau, mengajarkanku membaca saat aku buta. Kau mengajarkan aku berjalan saat aku tertidur. Kau mengajarkanku bicara saat aku lebih suka mengulik rumus-rumus ...

aturan-aturan

Kita tertawa kemarin. Kau ceritakan kisahmu, aku mendengarkan. Itulah aturan utamanya . Dan aku mengikutinya dengan baik sejauh ini. Selama ini.  Aku takkan melihat kemana-mana lagi dan hanya menatap satu titik. Matamu. Itu adalah aturan kedua . Aku akan banyak diam. Mengikuti alur ejekan dengan senyum dan berharap malam segera merayap datang. Aku diharuskan berhati pelawak. Tak boleh memasukan satu kata jahilpun dalam hatiku agar tak terluka. Itu aturan yang ketiga . Dari semua aturan yang tersedia. Selama ini aku melakukannya dengan baik. Aku melewati alurnya dengan sabar. Aku tak pernah mengeluh. Aku lebih banyak tertawa dan selalu kuucapkan terimakasih untuk tawa hari ini . Lalu apa salahku? Kenapa tiba-tiba kalian membuatku merasa seperti orang jahat ? Apakah aku melewatkan salah satu aturan itu? Apakah aku melanggar aturan yang tersirat itu? Aku dibuat untuk merasa bersalah tanpa alasan yang jelas! Aku dibuat bingung dengan sikap yang mendadak dingin dan senyum kecut. Angg...

ulang tahun[karakter]ku... kematian[karakter]ku...

Bulan apa sekarang? Februari? Sebentar lagi aku berulang tahun... Itu adalah ulang tahun pertamaku... Aku berulang tahun sebentar lagi... Itu adalah ulang tahunku yang pertama... Aku lahir saat itu. Dalam dingin dan kebisuan. Aku belajar merangkak dari kehidupan sulit hingga berlari riang hari ini. Satu tahun... Waktu yang tak sebentar, percaya tidak? Ah tidak, sangat sebentar untuk melahirkan aku. Aku yang hari ini. Setiap harinya, aku semakin kuat, bebas dan mempelajari banyak hal. Aku menjadi pribadi yang cerdas namun misterius dalam kuluman senyumku. Awalnya aku terlahir dengan parang di tanganku, aku ingin membunuh semua yang ada di hadapanku, yang membuatku dingin, yang membuatku terlahir ke dunia ini. Aku tersadar. Ada yang tak pernah meninggalkanku. Masih ada rasa hangat dari air mata yang terjatuh saat aku terlahir. Saat aku belajar. Hingga saat ini. Sebentar lagi waktunya tiba, dan pengingat aku sudah mati, tahun lalu... Satu tahun... Apa kabar dunia yang kutinggalkan? Mas...

aku ingin kau mengingatku...

Aku ingin kau mengingatku, bukan dengan lirik-lirik lagu yang teruntai merdu, bukan dengan puisi yang menyayat hati, bukan juga dengan cerita yang harus di bukukan... Aku ingin kau mengingatku, demi ratusan hari kita bersama, demi senin-jumat saat kita tertawa, demi sabtu-minggu dibawah mentari dan berharap tak bertemu senin... Aku ingin kau mengingatku, aku tak mau banyak perhatianmu untukku, juga tak mau kartu-kartu ucapan atau hadiah yang mahal... Aku ingin kau mengingatku... Karena hariku bukan sekarang, karena hariku sudah terlewat dan takkan kembali... Aku ingin kau mengingatku... "Selamat hari jadi..." Katamu. Kujawab, "Bukan hari ini..." 6 oktober 2010

kenangan SPAM

"Mana emailnya?" "Udah dikirim, coba kamu liat deh..." "Ah ga ada! udah ta liat!" "Masa sih? Ntar deh aku kirim lagi..." "Ga mau! Pengen sekarang pokoknya!" "Saya lagi sibuk, besok yah?" "GA-MA-U. Pengen sekarang!" "Maaf banget, kalo sekarang ga bisa." "Kamu kok gitu sih..." "Iya, iya deh... Jam 11 siang aku kirim lagi ke kamu. Oke? Sekarang, kamu jangan marah yah, jangan cemberut, saya sayang banget sama kamu..." Jam 11 siang. "Mana? Kok masih belom ada sih?" "Udah saya kirim kok, tadi jam 10, pas istirahat sekolah, saya langsung lari ke warnet, masa sih ga ada?" "GA-A-DA!!!" "Bentar deh saya ke warnet lagi, ntar saya kirim." Tak lama, puluhan email berisi pertanyaan, 'udah ada belom', memenuhi inbox dan jawabannya selalu, 'mana? ga ada!' "Maaf yah, saya hari ...