si hitam pahit



Aku sudah bosan dipermainkan olehmu, kataku pada si hitam pahit. Kalau kau mau bermain-main, bermain saja dengan yang lain!
hey hitam pahit, aku suka jiwa rock and roll-mu. Tapi itu tak berarti bahwa aku harus ketagihan padamu setiap hari. Aku punya hidup sendiri. Aku punya pantangan dan rasa sakit yang harus kuhindari.
Kau boleh suka padaku, kau boleh memujaku. Menghina diriku pun tak apa-apa. Aku takkan menyimpan umpatanmu dalam hati.

Aku bukan orang yang bisa kau suruh-suruh seenaknya, aku bukan penikmatmu seperti yang lain. Aku tidak akan membiarkan diriku jatuh dalam rengkuhan rasa sakit.
Si hitam pahit! Kau membuatku kesal. Caramu. Semuanya. Tak bisakah kau merenggangkan sikap angkuhmu untuk memiliki? Aku bukan alat!
Aku tak mau berguling-guling dalam rasa sakit dengan mulutku yang tertutup. Takut bicara. Takut menyakiti. Takut lebih tersakiti.
Rasa sakit, hitam pahit, yang membuatku belajar untuk tak mudah masuk dalam jeratan. Apalagi jeratanmu.

Kau bersikap seperti itupun aku tak peduli, hitam pahit...
Hey hitam pahit, aku punya banyak urusan. Aku ingin sekali mempedulikanmu, sayangnya aku tak punya cukup banyak waktu. Dan aku sudah berjanji untuk tak menyia-nyiakan waktuku, bahkan tidak satu detikpun.
Duduk manislah di atas meja itu. Aku akan mulai menghiraukanmu jika kau sudah bersahabat ketika bibirku menyentuh mulut gelasmu. Jika kau sudah cukup bersahabat dan tak menggebu-gebu seperti uap yang keluar dari ketel itu. Aku akan menghiraukanmu. Aku akan menyeruputmu hingga tetes terakhir.
Rasa sakit takkan kupedulikan lagi jika kau sudah bersahabat. Dan aku tidak main-main...

Hey, si hitam pahit... tak pernahkah kau belajar bersabar? Lebih lama dan lebih keras lagi?




12 April 2011
untuk si hitam pahit yang menunggu kuseruput...

0 comments:

Post a Comment