Kota yang Dicintai


Bagi sebagian orang, sebuah kota bisa dicintai bahkan hanya karena perasaan yang dirasakan ketika berada di kota itu. Perasaan-perasaan itu abadi tersimpan disana. Setiap orang seolah memiliki loker dan kunci yang khusus dan hanya terbuka ketika ia datang ke kota itu. Tidak seperti loker biasa yang bisa diberikan pada orang lain jika pemiliknya sudah tidak menggunakannya, perasaan yang terasa di kota itu memanggilnya untuk kembali menelusuri perasaan yang pernah dirasakannya. Ada banyak kota yang memiliki sisi magis seperti itu.

Bagiku, Jogja adalah kota itu. Disana, bahkan ketika aku belum menemukan cintaku yang sesungguhnya, ketika hatiku masih berserak dan menganggap diriku adalah bagian dari puzzle yang cacat, aku merasakan perasaan nyaman. Saat itu aku tidak paham apa terjemahan dari perasaan-perasaan itu. Aku sama sekali tidak paham. Aku hanya tahu bahwa aku merindukan seseorang. Sering aku kembali ke kota itu hanya untuk memastikan perasaan itu masih ada. Aku tidak pernah tahu apa maksud perasaan itu sampai kemudian sore itu aku kembali ke Jogja.

Udara Jogja di sore hari selalu membawa aroma yang berbeda ke hidungku, ternyata aroma itu mirip sekali dengan aroma tubuh lelaki yang menggandeng tanganku erat sambil menyusuri jalan Malioboro. Lalu perasaan nyaman yang dulu kurasakan itu ternyata adalah perasaan yang sama ketika lelaki itu mengobrol denganku tentang segala hal. Ini bukan kebetulan, Tuhan dan Jogja bekerja sama untuk membuatku terkagum-kagum dengan jalan takdirku.

Malam hari ketika aku meninggalkan Jogja, aku merasakan ada tubuh kecil yang juga akan mencintai Jogja seperti ibu dan bapaknya. Aku tahu perasaan itu akan segera kurasakan kembali.

0 comments:

Post a Comment