Skip to main content

Posts

journey 3676mdpl

(photo by : luckythaocta) Selamat pagi, RANU PANE... Itulah yang aku ucapin pas aku bangun dari tidur sekitar jam 4 pagi. Semaleman aku tidur di luar tenda. Yang lain di dalem. Hehe. Aku sampe di Ranu Pane jam 7 malem (19/10/12). Karena kemaleman, akhirnya aku tidur dulu di camp yang disediain sekitar 100 meter jalan ke atas tempat perijinan. Setelah ngediriin tenda dan makan malem, kita semua tidur. Sepanjang malam, angin berhembus kenceng banget. Beruntung sleeping bag aku itu tebel dan nyaman banget. Jadi aku ga ngerasa kedinginan sama sekali kecuali di bagian tarang (baca: kening) soalnya aku sengaja ngasih celah sedikit buat oksigen masuk. Suwer, rasanya mimpi banget bisa ke Semeru, tidur di Ranu Pane, persis sama apa yang aku impi-impiin selama ini. Jam 6, setelah selesai sarapan, kita ngepak barang lagi, beresin tenda terus siap-siap ke perijinan buat ngelanjutin perjalanan ke Ranu Kumbolo. Setelah perijinan beres, kita nyusurin jalan aspal sampe mentok ...

kehilangan

Aku memang tak tahu apa-apa tentang kehilangan, apalagi kehilangan sosok Ayah. Aku bersyukur pada Tuhan bahwa aku masih memiliki Ayah, Ibu dan keluarga yang lengkap, meski pun aku tak pernah mengenal sosok kakekku. Kawan, entah pantas atau tidak aku bicara. Kata 'sabar' adalah kata yang paling mudah menguap. Diammu pun adalah sabar. Tangismu pun adalah sabar. Perih yang hanya kau simpan dalam dada pun adalah sabar. Entah kata apa yang pas untuk mengobati kehilanganmu. Kita memang tak pernah bicara banyak tentang perasaan. Tapi aku tahu rasa kehilangannya seperti apa. Membayangkannya saja pun mataku sudah begitu berat menahan air mata. Tapi kau begitu tegar untuk menahan gemetar bibirmu menahan isak sambil menyaksikan tubuhnya perlahan masuk ke tempat peristirahatan terakhir. Kata 'selamat tinggal' dan 'maaf' aku yakin ingin berhamburan dari bibirmu yang gemetar. Aku menyaksikanmu menunggui Ayahmu berhari-hari. Kau tahu waktu untuknya hanya tinggal sebenta...

Backpacker with Bebek

Aku mengenal Bebek pertama kali bukan sebagai sosok yang menyenangkan. Aku heran pada dia yang suka tersesat dan menghilang mendadak. Dia bisa membuat semua orang peduli dan khawatir padanya. Lalu si Bebek dengan entengnya bilang, "Apa da aku mah sama temen aku". Aku mengenalnya pertama kali sebagai produser di film pertamaku, The Simplicity of Love . Di tengah-tengah jalan, dia justru mengundurkan diri. Aku mencap Bebek sebagai sosok yang mudah hilang. Aku masih belum mengenalnya meskipun sudah hampir setengah tahun bersama dengannya dalam wadah sebuah komunitas. Barulah aku mengenalnya saat aku dan dia dipasangkan sebagai koordinator kelas kajian. Awalnya aku ragu apakah aku bisa "menemukan" si Bebek ketika dia hilang? Aku rasa, kelas kajianlah yang mendekatkan aku dengannya. Hingga kemudian di sebuah sore di bulan Juli. Kami berbincang tentang rencana backpacker . Bebek dan aku begitu antusias ingin pergi backpacker . Sayangnya orang-orang yan...

Mimpi

                Aku bernama Mimpi. Aku bisa menjalar di kepala siapa saja yang kukehendaki. Mereka menyukaiku, aku pun menyukai mereka. Aku bisa memunculkan berbagai macam ide, seperti menanamkan benih di ladang. Aku bisa menanamkan benih kebaikan, juga keburukan. Atau bahkan tidak menanam sama sekali.                 Aku Mimpi. Aku seperti tanaman rambat, seperti sel kanker yang dengan mudahnya menyebar. Aku bisa menggunakan organ tubuh dari korbanku sesuka hatiku. Aku bisa membuat mereka seperti melayang hingga akhirnya aku dorong mereka ke jurang dan mereka menyadari bahwa mereka baru saja jatuh dari tempat tidur.                 Aku bisa menjelma di waktu senggang, pun sibuk. Aku bisa menjadi khayalan yang terlalu nyata untuk dilupakan. Atau bisa jadi...

Taubat

Aku adalah perpaduan dari dua jenis makhluk yang sempurna dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ayahku, si cerdas. Ibuku, si murah hati. Perpaduan itu tidak menjadikan aku si cerdas yang murah hati. Mana ada makhluk yang sempurna seperti itu di dunia ini? Perpaduan yang ada dalam diriku adalah. Aku sekuat Ayahku. Seberani Ibuku. Secerdik Ayahku. Seluwes Ibuku. Dan begitulah seterusnya. Tapi kugaris bawahi, aku tidak sempurna . Tak ada makhluk yang sempurna kecuali Dia. Aku pun ingin sekali bertaubat di usiaku yang baru kepala dua. Aku ingin sekali menjadi kekasih-Nya yang tak pernah lupa bertasbih menyebut nama-Nya. Tapi ada hal yang selalu mengganggu pikiranku. Aku selalu ingin mencoba hal-hal baru. Rasanya seperti digelitiki sesuatu dan jika tidak tertawa, maka aku tersiksa. Begitu juga jika aku menahan diriku untuk tidak naik gunung, backpacker seorang diri, dan lain lain. Aku tersiksa. Aku ingin sekali menjadi anak yang baik dan penurut. Tapi darahku ini tak bisa...