yang bergerak

    Hari ini, adalah hari kedua aku mengajar. Aku sudah semester 7 dan sekarang sedang menyelesaikan program pe-pe-el yang lebih dikenal dengan nama Jobtre. Bagiku, hari ini adalah hari yang sempurna, aku sudah mempersiapkan RPP (Rencana Program Pembelajaran) dengan sempurna, juga aku mempersiapkan sebuah powerpoint sederhana yang akan mudah dimengerti oleh para siswa, dan tak lupa aku membuat kopian tentang presentasiku, sengaja kuambil plan B lebih awal, antisipasi jika ternyata LCD yang sudah kupesan tidak bisa kupakai.
    Aku tidak didera gugup sekalipun. Tidak seperti temanku yang lain, aku sangat menikmati program pe-pe-el ini. Aku menikmati saat aku berinteraksi dengan siswa, saat siswa itu kemudian mencium tanganku, saat siswa itu memanggil namaku dan SKSD menghujamiku dengan pertanyaan polosnya. Aku sangat menikmati semua itu.
    Awalnya aku tidak gugup, tapi saat mereka memanggil namaku dan kucium aroma semangat. Aku mulai gugup, mereka ternyata berani menyambut tantangan belajarku hari ini. Tapi aku tidak kehilangan rasa percaya diriku.
    Saat kakiku melangkah masuk ke kelas, mereka masih belum siap belajar. Beberapa di antaranya masih sibuk makan dan yang lainnya asyik bermain game di laptop.
    Senjata awal kukeluarkan, kudiamkan mereka hingga mereka sendiri yang menyiapkan diri untuk belajar. Dan senjata itu berhasil, diamku membuat mereka diam juga. Saat kupikir sudah cukup kondusif untuk memulai pelajaran, maka aku mulai dengan mengabsen. Absen adalah salah satu koreksi terbesarku di penampilan mengajarku kemarin. Aku terbiasa dengan tidak mengabsen, karena biasanya mengabsen adalah jurus mengulur waktu dari teman-temanku di kelas microteaching. Aku tidak pernah berusaha mengulur waktu karena bagiku satu detik yang kulewatkan untuk mengabsen adalah hal yang percuma. Lalu aku mulai menulis di papan tulis, papan tulis adalah koreksi terbesarku juga di kelas microteaching. Aku terbiasa dengan seluruh alat peraga dari gambar dan LCD, jadi aku tidak pernah menulis di papan tulis. Tapi kali ini, kusempatkan menulis sebuah judul dengan huruf kapital di papan tulis.
    Kemudian sesuai bimbingan guru pamongku, aku membacakan tujuan dan indikator pembelajaran. Beberapa dari anak-anak mencatat dengan serius dan yang lainnya bersikap cuek. Aku merasa itu adalah sikap yang wajar, ya wajar saja, mereka adalah siswa RSBI yang otaknya dirancang sedemikian sempurna oleh Tuhan hingga tidak perlu membuang waktu banyak hanya untuk mengerti tentang tujuan dan indikator pembelajaran.
    Kelas mulai ribut. Kucoba menenangkan mereka namun gagal. Kurasa diam bukan sebuah solusi untuk sekarang ini. Maka aku mulai menulis lagi di papan tulis tentang bahasan yang akan kubahas. Kutulis panjang lebar, sejelas mungkin dan serapih mungkin. Anak-anak kemudian meminta ijin menulis di lantai yang di alasi karpet. Aku mempersilakan mereka belajar sesuai keinginan mereka sendiri. Karena aku sendiri punya gaya belajar yang terbilang unik. Aku tidak pernah bisa memahami suatu materi jika aku memperhatikan si guru sambil terdiam. Aku justru lebih mengerti tentang materi yang diajarkan jika aku menggerak-gerakkan kakiku, tanganku, memutar pensil di tanganku atau sambil mencatat. Ya, aku adalah seorang anak kinestetikal. Diam sama dengan membuatku mati, dan itu sudah terbukti ketika seorang guru memerintahkanku diam, tidak melakukan apa-apa dan memasung kepalaku agar tidak bergerak-gerak. Alhasil aku tidak mengerti satu pun yang dijelaskan oleh si guru. Ketika nilaiku jatuh di ujian, si guru mulai menyalahkanku, tapi dalam hatiku, aku tahu bahwa aku tidak bisa diajari dengan metode seperti itu. Aku tidak bisa diam. Maka aku memaklumi ketika siswaku yang sekarang adalah anak-anak yang tidak bisa diam.
    Setelah selesai menulis, aku memberi waktu bagi anak-anak untuk menyalinnya. Sambil menyalin, mereka mulai bertanya tentang satu persatu tulisan yang kutulis. Sedikit-sedikit kujelaskan agar rasa penasaran mereka meningkat. Dan memang seperti itulah metode yang kubuat, agar rasa penasaran mereka bertambah.
    Guru pamongku berpesan bahwa aku tidak perlu menunggu hingga siswa selesai menulis, maka setelah kupikir waktu yang kuberikan cukup untuk mereka menulis, aku mulai menjelaskan. Saat ini, materi yang kusampaikan adalah gejala alam biotik dan abiotik. Aku mulai mengulang bahasan yang lalu tentang komponen biotik dan abiotik.
    Banyak respon yang kudapat. Garuk-garuk kepala, menguap, mengerutkan kening, melongo, bahkan ada juga yang menghela nafas panjang. Aku bertanya-tanya, bagian mana yang sekiranya tak mereka mengerti dari pembahasanku?
    Seorang anak kemudian bertanya padaku, "Bu, plastik di sungai termasuknya gejala alam biotik yah? Nanti kalo mampet, baru masuknya gejala alam abiotik."
    Aku mengerutkan keningku. Karena sistem pembelajaranku adalah cooperative learning alias sama-sama belajar, maka jawabanku adalah sebuah pertanyaan yang akan mengorek pengetahuan mereka sendiri.
    "Kenapa plastik yang ada di sungai termasuk gejala alam biotik?"
    "Kan bergerak, Bu." Jawab anak itu polos.
    "Kalo plastik itu biotik atau abiotik?"
    "Abiotik."
    "Kalo sungai itu biotik atau abiotik?"
    "Abiotik."
    "Terus kenapa termasuknya gejala alam biotik?"
    "Kan bergerak, Bu. Manusia juga bergerak. Kalo tumbuhan tuh baru abiotik, soalnya enggak bergerak." Kata si anak itu menjelaskan. Aku tertegun mendengar penjelasan dari anak itu.
    Untungnya aku belajar filsafat dan memang sedang mendalaminya. Dan hukum di filsafat adalah tidak mudah menyalahkan dan tidak mudah membenarkan sesuatu. Maka, aku maklum ketika seorang anak lelaki berumur 12 tahun bilang bahwa air yang mengalir adalah gejala alam biotik dengan sebuah alasan bahwa air itu "bergerak". Ya, siapa juga yang akan menyalahkan pendapat si anak? Memang, air memang bergerak, dan waktu kecil, aku pun pernah mengklasifikasikan makhluk hidup hanya berdasarkan kemampuannya bergerak.
    Aku tersenyum setelah beberapa detik melongo. Aku mulai menjelaskan tentang ciri-ciri makhluk hidup secara singkat dan si anak tetap ngotot bahwa air mengalir adalah salah satu gejala alam biotik.
    Aku sudah selesai menjelaskan bahasanku dan RPP-ku sudah terlaksana, tinggal pertanyaan si anak itu. Kujanjikan padanya bahwa aku akan menjelaskan tentang perbedaan makhluk hidup dan benda mati di pertemuan selanjutnya. Si anak kemudian bertanya tentang hal lain yang masih ada hubungannya dengan biotik dan abiotik, kujawab dengan pertanyaan yang meruncing hingga dia sendiri yang akan menemukan kesimpulannya. Bukankah seorang guru seharusnya bisa memuaskan muridnya dalam hal bertanya?
    Saat aku kembali ke mejaku karena aku sadar bel akan berbunyi kurang dari semenit lagi, seorang siswa menghampiriku.
    "Ibu, Ibu kuliah di mana?" Tanyanya.
    "Universitas itu."
    "Kenapa Ibu enggak masuk universitas ini atau sana?"
    "Nanti mungkin S2."
    "Ibu itu orang yang pinter. Seharusnya Ibu sekolahnya di sana." Kata si anak itu sambil beranjak pergi. Lagi-lagi aku tertegun. Aku sudah memperhatikan anak itu sejak pertama kali aku masuk ke kelas ini. Wajahnya seram, rambutnya jabrik tanpa gel, telinganya mirip dengan Buddha Gautama. Aku sudah memprediksikan sifat yang ada padanya adalah sifat bijak, yah, seperti Sang Buddha saja. Dan benar, penilaianku tidak salah.
    Aku mengumumkan pembahasan yang akan kubahas selanjutnya di kelas nanti dan tingkat perhatian mereka meningkat, mereka mulai mendengarkan setiap ucapanku meskipun masih ada juga anak yang cuek dan tidak mau memperhatikanku.
    Saat aku keluar dari kelas dan berjalan ke ruang guru. Aku merenung sambil berjalan lambat. Aku memikirkan tentang metode mengajarku, aku memikirkan tentang siswaku, anak-anak yang dipercayakan oleh orang tuanya untuk dicerdaskan di sekolah. Mereka bertemu denganku, diajar olehku, aku kemudian dilingkupi rasa takut, bagaimana jika aku bukan membuat mereka pintar? Bagaimana jika aku justru membuat benang kusut di kepala mereka? Bagaimana jika mereka yang mengangguk itu bukan tanda mengerti tapi justru mereka menginginkanku segera hengkang dari kelas itu?
    Aku melewati kelas E dan F yang sempat kuajar hampir seminggu kemarin ini. Mereka bergantian menciumi tanganku dan memintaku mengajar Biologi di kelas mereka. Bagaimana mungkin guru yang standarnya "baru" sepertiku mengajari anak-anak cerdas seperti mereka?
    Aku menundukan kepalaku dalam-dalam. Bagaimana mungkin murid yang cerdas itu diajar oleh guru yang bodoh, sepertiku? Takkan pernah cukup waktu untuk belajar di kelas agar mereka mengerti. Aku butuh lebih dari delapan kali pertemuan untuk membuat mereka mengerti tentang pelajaran biologi ini. Aku berharap pe-pe-el ini tidak berakhir di semester ini. Aku tidak tahu seperti apa doa dan pemikiran dari teman-temanku yang lain saat mengajar, tapi aku sendiri merasa sangat kurang dalam hal belajar dan mengajar.
    Aku justru penasaran pada guru-guruku semasa SMP dulu, bagaimana mungkin mereka mengajariku dengan metode duduk di kursi guru, membaca buku dengan suara yang serak sambil menahan kantuk? Juga pada guru-guruku semasa SMA dan dosenku di kuliahan. Apakah mereka pernah berpikir sepertiku? Bagaimana mungkin mereka tega membodohi generasi cerdas dan brilian seperti itu?
    "Yang bergerak itu tidak selalu hidup, Nak." Ulangku dalam hati.




120911

0 comments:

Post a Comment