#MengajarIndonesia Middle of Nowhere

Katanya, pendidikan di Indonesia itu sudah sangat bagus. Mencetak insinyur-insinyur canggih yang mampu bikin kereta bawah tanah, bawah laut juga. Katanya lagi, guru-guru di Indonesia itu bersertifikasi, dipanggilnya aja Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Katanya sih.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para guru yang memang "bersertifikasi". Ini saya, guru yang tidak "tersertifikasi". :)

Saya diminta mengajar salah satu sekolah di daerah pinggir kota. Jaringan internet di daerah itu sudah 3G. Di radius 2 km ada beberapa warung internet yang jadi tongkrongan siswa sepulang sekolah. Sudah tidak ditemukan lagi siswa yang jalan kaki ke rumahnya yang berjarak 500 meter. Berapa pun jaraknya, siswa pasti naik motor. Termasuk di sekolah tempat saya dimintai mengajar itu.

Saya lulusan Pendidikan Biologi. Tersasar hingga punya passion di dunia film, menjadi sutradara hingga akhirnya ditawari jadi guru SBK (Seni Budaya dan Kesenian).

Tidak sulit untuk seorang dengan background "pendidikan" untuk dimintai mengajar. Meski awalnya nggak yakin, akhirnya sudah beberapa bulan ini saya ngajar lancar juga.

Tidak ada kendala berarti yang saya temui selama beberapa bulan ini. Sekolah tempat saya mengajar hanya punya sekitar 150an murid, terdiri dari MTs dan SMK. Di MTs saya menemukan satu kelas yang hanya diisi 12 siswa.

Anak-anak bandel, suka ribut dan tidak mau mengerjakan tugas adalah pemandangan biasa bagi saya karena sebelumnya saya pernah juga mengajar di beberapa sekolah lain. Dari sekolah elit, sampai sekolah bertaraf internasional.

Setiap hari, saya berjalan kaki menuju sekolah yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari tempat saya turun dari angkot. Tidak ada siswa yang "mau" jalan kaki. Saya adalah guru sekaligus orang satu-satunya yang "mau" jalan kaki 500 meter menuju sekolah. Enggan naik ojeg, meski pun bayarnya hanya tiga ribu rupiah sekali jalan.

Alasan saya simpel, saya jarang olahraga, beberapa bulan kemarin saya syuting film bersama Museum Konperensi Asia Afrika, di saat syuting itu, saya hampir pingsan saat sedang mengoperasikan kamera. Ternyata tekanan darah saya rendah lagi. Jadi saya bertekad untuk mengolahragakan diri dengan berjalan 500 meter menuju sekolah itu.

Sering saya diledek tukang ojeg dengan ocehan mereka yang bilang bahwa saya orang miskin dan tidak punya uang untuk naik ojeg. Mungkin mereka kesal karena saya enggan memberikan tiga ribu rupiah saya untuk mereka. Hehehe.

Dari sekian banyak tantangan yang saya temui, masalah sebenarnya muncul beberapa minggu lalu. Saat itu, saya sedang mengajar materi mengaransemen lagu untuk siswa kelas 8 MTs.

Pertama-tama saya mengajari tentang notasi nada. Saya ajari akor C, D, E, F dan seterusnya. Mereka mengangguk paham. Kemudian saya ajari Do, Re, Mi, Fa dan seterusnya, mereka mengangguk paham lagi. Kebiasaan saya, setiap kali selesai mengajarkan sesuatu, saya menyuruh siswa untuk mengerjakan tugas yang langsung saya periksa hari itu juga.

Tujuannya agar saya tahu sejauh apa siswa memahami materi yang saya ajarkan. Tugasnya tidak sulit, hanya membuat harmoni dua suara dari sekitar 7 akor yang saya buat acak. Saya pikir, lima menit pun selesai. Toh sudah diajari sebelumnya dengan susunan teratur, sekarang saya acak, tinggal diganti saja.

Tak disangka tak dinyana. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyetorkan tugas. Tidak satu pun dari mereka yang mengerjakan juga. Ketika saya ajari bolak-balik, mereka bilang paham. Lalu apa yang salah?
Seorang siswa kemudian bertanya perihal akor C, D, E yang saya ajarkan. Dia bertanya itu akor apa? Fungsinya apa dan digunakan dalam musik apa? Kemudian apa itu Do, Re, Mi, Fa? Dipakai untuk apa Do, Re, Mi, Fa itu?

Tidak berusaha lebay, hati saya menangis saat itu juga. Saya seperti sedang mengajari anak-anak untuk makan menggunakan sendok, tapi anak-anak itu tidak mengerti alat yang digunakan untuk makan itu adalah sendok dan tidak mengerti juga sendok itu untuk apa.

Saya mengorek informasi tentang sekolah itu. Guru yang mengajar SBK sebelum saya katanya tidak pernah masuk untuk mengajar. Anak-anak hanya diberi tugas untuk menulis ulang apa yang ada di buku. Tidak pernah ada praktek, guru tidak pernah menjelaskan, tidak pernah ada pemahaman yang masuk ke kepala mereka.

Sedih sekali.Ketika saya coba tanyai anak-anak satu persatu, ternyata tidak satu pun anak di sekolah itu mengerti soal akor. Mereka bahkan tidak bisa membaca Do, Re, Mi, Fa dalam notasi angka.

Saya sempat takut untuk mengajar SBK karena saya adalah lulusan Biologi, bukan SBK. Tapi ketika saya membaca silabus dari mata pelajaran SBK, saya optimis saya bisa mengajar. Toh saya hanya perlu melanjutkan mengajari apa yang guru sebelumnya pernah mengajar. Ternyata tugas saya tidak semudah itu.
Siswa-siswi di sekolah itu menyambut dengan bahagia kehadiran saya di sekolah mereka. Mereka bilang bahwa saya adalah satu-satunya guru yang mau susah payah mengajari mereka berulang-ulang hingga mengerti. Ya, saya pun kepayahan sendiri.

Awalnya, saya menganggap mengajar di sekolah itu sebagai kegiatan selingan. Tapi sekarang semuanya berubah. Ada siswa-siswi yang perlu saya beri pemahaman, meski pun hanya tentang seni dan budaya. Tapi menurut saya justru penting untuk seseorang mengetahui seni dan budaya. Kasus Malaysia yang mengambil lagu milik Indonesia adalah contoh dari ketidakpahaman seseorang tentang seni dan budaya.

Tentu kalau semua orang Indonesia mengerti tentang seni dan budaya negaranya, kejadian pencatutan lagu itu tidak akan pernah ada. Mengerikan ya. Saya miris.

Saya bersemangat untuk mengajarkan lebih banyak hal lagi pada siswa-siswi di sekolah itu. Meski pun mereka tidak henti-hentinya bilang, "....namanya juga sekolah di kampung, enggak tahu mah wajar." Tapi seharusnya orang bodoh itu jangan sombong. Orang bodoh itu mestinya malu dan berusaha untuk tidak bodoh.

Saya, meski pun hanya menumpang lahir di "kampung" ini, tetap mau belajar banyak hal. Terbayang di pikiran saya kalau ternyata kejadian yang saya alami ini tidak hanya di mata pelajaran yang saya ajarkan saja. Tapi di seluruh mata pelajaran, anak-anak ini tidak mengerti dengan materi yang mereka dapatkan.
Mereka seperti diajak pergi naik mobil dari Cileunyi ke Jakarta naik tol setiap hari, selama bertahun-tahun, dan tidak satu pun dari mereka yang sadar kenapa mereka harus ke Jakarta dan kembali lagi ke Cileunyi dan mengulangi itu terus menerus. Meski pun ada yang sadar bahwa mereka melewati jalan yang sama, mereka hanya bilang "oh" dan perjalanan berlanjut lagi.

Ya, saya muda, terlalu banyak idealisme yang belum mati, terlalu kritis hingga dibenci orang. Tapi, jangan-jangan saya pun sedang menaiki mobil dari Cileunyi menuju Jakarta dan tidak menyadari bahwa saya berada di dalam mobil yang sama bersama siswa-siswi saya?

0 comments:

Post a Comment